Puisi: Perantau – Sartika Sari (l. 1992)

Sartika Sari (l. 1992)
Perantau

pagi-pagi benar, kudengar suara ibu seperti desing peluru
menembus kabut
tapi sudah harus kususuri lagi jalan ini
di antara sisa keramaian semalam,
atau bekas ciuman sepasang gelandangan
jauh di dalma tubuhku, sepi memanjang
menembus urat-urat dan kelenjar
tapi segandeng mata dan seisi kepalaku
tak bisa bernego apa-apa
huruf-huruf berjatuhan dari langit
menyusun rangkaian nama ayah dan ibu
kadang bersama hujan,
atau matahari yang malu-malu
aku harus berjalan, seperti suara ibu
menerabas waktu
dan rindu yang bersumbu-sumbu.

Jatinangor, 2015

Sumber: Pikiran Rakyat, Minggu 28 Februari 2016.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.