Puisi: Rubaiyat Februari – Jamal D Rahman

Jamal D. Rahman

1

langit cair tembaga
pecah di kawah menganga
tak habis-habis menguras magma
: di tebing merah api ini, aku mendaki sendiri, jadi magma paling sunyi

2

padang-padang sunyi
terbakar kibasan sayap februari
ke tanah jua ciumanku kembali
: aku cium wangi debu, sehabis terbakar tarianmu, di sayap-sayap rindu

3

bulan retak batu
februari pecah api
dan pecahlah luka itu kembali
: aku bakar sunyi, hingga aku meleleh sendiri, jadi cairan besi

4

pohon-pohon batu
daun ranggas berbalut debu
kemarau mengeras di kulit kayu
: biar kugulung api, takkan habis cairan besi, membakar kayu-kayu sepi

5

bau kemarau bau tembakau
kering rumput bulan lepas januari
dan terbakarlah sunyi itu kembali
: aku mendidih sendiri, hangus sunyi, menguap di timah sepi

6

air manis tebu
aroma wangi daun jambu
dan sampailah roh di batas dahaga itu
: aku teguk bau tanah bau sawah, aku reguk wangi matamu yang selalu basah

7

benih-benih matahari
bau ladang rembang pagi
menunggu kelahiran rembulan februari
: di remah-remah waktu, di pecahan-pecahan batu, kulahirkan kembali biru jiwaku

8

tanah siwalan abu-abu magrib
langit rembang biru menggelap
malam datang kuda-kuda rohku menderap
: dengan sayap-sayap api, aku belah langit dan bumi, aku nyalakan doa matahari

9

bahkan patahan-patahan bumi
bergerak dalam tubuhku
mengombakkan ayat-ayat rindu
: di ruas-ruas jemariku, di garis-garis tanganku, engkaulah doa paling biru …

10

dan rubaiyat pun sepi kembali
diam bintang, diam rembulan, diam bumi
memandang sepasang tangan februari
: di ruas-ruas jemarimu, akulah doa yang mengetuk-ngetuk pintu ….

 

Sumber: Blog Jamal D. Rahman (https://jamaldrahman.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.