• Mata Puisi
  • Vlog Juru Baca
  • Arsip Horison 1966 – 1990
Antologi Hari Puisi

Menu

Skip to content
  • Beranda
    • Esai
    • Buku
    • Puisi
    • Penyair
    • Wawancara
  • Antologi Tumbuh
  • Situs Bagus
  • Daftar (sementara) Penyair

Riki Utomi

Puisi: Aku dan Waktu – Riki Utomi (l. 1984)

Posted on 1 April 20201 April 2020 by Editor

Riki Utomi (l. 1984) Aku dan Waktu aku dan waktu selalu berkelit. aku selalu mengasah pedang. dan waktu menantang: “bunuhlah diriku!” waktu tak pernah berkhianat. namun aku selalu kalah waktu […]

Posted in Puisi Tagged Riki Utomi Leave a comment

Puisi: Yang Datang – Riki Utomi (l. 1984)

Posted on 1 April 20201 April 2020 by Editor

Riki Utomi (l. 1984) Yang Datang yang datang adalah angka, meneror tubuh kita. memakan sisa usia. yang datang adalah jarak, menepikan mata dari sudut lihat paling fana. yang datang adalah […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Riki Utomi Leave a comment

Puisi: Selatpanjang – Riki Utomi (l. 1984)

Posted on 1 April 20201 April 2020 by Editor

Riki Utomi (l. 1984) Selatpanjang kami berada di ujung kepalamu, selatpanjang. tebingtinggi yang menaruh harapan, degup jantung secepat mesin kempang ketika menyusuri arus gelombang. ketika sampai di ujung pulau rangsang, […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Riki Utomi Leave a comment

Puisi: Telukbelitung, Memoriam – Riki Utomi (l. 1984)

Posted on 19 November 20171 April 2020 by Editor

Riki Utomi (l. 1984) Telukbelitung, Memoriam aku meletakkan mimpi di dermaga sedang kau menyimpannya dalam laci mengunci dengan sandi puisi yang masihkugumam sampai kini sampan-sampan nelayan masih membuka layar, matahari […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Riki Utomi Leave a comment

Puisi: Pulut Hitam: Kelam dan Harapan – Riki Utomi (l. 1984)

Posted on 19 November 20171 April 2020 by Editor

Riki Utomi (l. 1984) Pulut Hitam: Kelam dan Harapan mau juga kau cicip bubur pulut hitam meski niat tertambat kacang hijau. terpaksa juga kau menerima keremukan akibat tak seberapa penghasilan. […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Riki Utomi Leave a comment

Kategori

  • Agenda (14)
  • Anekdot (10)
  • Apresiasi (1)
  • Buku (10)
  • Dari Kami (7)
  • Esai (136)
  • Lokomoteks (2)
  • Majas (2)
  • Penyair (13)
  • Puisi (2,025)
  • Puitika (3)
  • Wawancara (2)

Arsip

RSS Antologi Hari Puisi

  • Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli
  • Esai: Apa yang Dibaca Chairil?
  • Puisi yang Bagus (2): Yang Mengantar pada Kematangan
  • Puisi yang Bagus (1): Kemahiran Menggunakan Perangkat Puitika
  • Puisi: Apakah Air Mata Seorang Asing Cuma Air yang Mengalir Membasahi Pipi Mereka Begitu Saja? – Moch Aldy MA
  • Esai: Tugas Seorang Penyair – Hasan Aspahani

Tag

Abdul Hadi WM Acep Zamzam Noor Agam Wispi Agenda Alfiyan Harfi Amir Hamzah Andy Sri Wahyudi Anekdot Avianti Armand Ayatrohaedi Badruddin Emce bukhari aljauhari Chairil Anwar Dami N. Toda Doddi Ahmad Fauji D Zawawi Imron Esai Frans Nadjira Goenawan Mohamad Hasan Aspahani Hasif Amini HPI2017 HR. Bandaharo Husain Landitjing J.E. Tatengkeng Korrie Layun Rampan M. Balfas Mh. Rustandi Kartakusuma Muhammad Yamin Nina Minareli Penyair Pranita Dewi Puisi Putu Vivi Lestari Rendra Rida K. Liamsi Rivai Apin Saini KM Sapardi Djoko Damono Subagio Sastrowardoyo Sutardji Calzoum Bachri Tjak S. Parlan Toeti Heraty Trisno Sumardjo Wiji Thukul

Hari Puisi | Antologi Puisi Indonesia

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat - "Catetan Th. 1946" - Chairil Anwar

Tulisan Terbaru

  • Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli
  • Esai: Apa yang Dibaca Chairil?
  • Puisi yang Bagus (2): Yang Mengantar pada Kematangan
  • Puisi yang Bagus (1): Kemahiran Menggunakan Perangkat Puitika
  • Puisi: Apakah Air Mata Seorang Asing Cuma Air yang Mengalir Membasahi Pipi Mereka Begitu Saja? – Moch Aldy MA

Kontak Kerjasama

jurubaca@gmail.com (Email)

Kategori

  • Agenda (14)
  • Anekdot (10)
  • Apresiasi (1)
  • Buku (10)
  • Dari Kami (7)
  • Esai (136)
  • Lokomoteks (2)
  • Majas (2)
  • Penyair (13)
  • Puisi (2,025)
  • Puitika (3)
  • Wawancara (2)

Telusuri Isi

Arsip

Antologi Tumbuh

Situs ini berupaya memuat puisi Indonesia dari titik awal sejauh yang bisa kami telusuri, hingga ke titik paling mutakhir di mana kami yakin puisi tersebut telah atau akan meninggalkan jejak yang  mewakili perkembangan dan pencapaian serta memberi sumbangan yang memperkaya cara ucap dan tema dalam puisi kita.

Sejak 2016 | Dikelola oleh Hasan Aspahani