Mustofa W Hasyim Batu merah menata benteng, menara dan gapura. Siapa yang menyusuri lorong, berkelok dan berhenti di depan nisan? Air kolam masih menetes di dahi, jejak rumput sampai udara. […]
Puisi: Selain Sia-sia – Moh. Wan Anwar (1970-2009)
Moh. Wan Anwar (1970-2009) selain sia-sia, adakah dosa tercatat di bentangan aspal dan ketenteraman kebun belakang rumah kita mungkin yang ada cuma kecemasan biasa seperti sering ada sesuatu yang tak […]
Puisi: Sajak Kenalan Lamamu – Rendra (1935-2009)
Rendra (1935-2009) Kini kita saling berpandangan saudara. Ragu-ragu apa pula, kita memang pernah berjumpa. Sambil berdiri di ambang pintu kereta api, tergencet oleh penumpang berjubel, Dari Yogya ke Jakarta, aku […]
Puisi: Di Dalam Televisi – Irma Agryanti (l. 1986)
Irma Agryanti (l. 1986) kota ini adalah televisi sebuah kaleng ikan sarden dengan amis laut buatan ada yang diracun dan menunggu mati suri kehilangan musim ketika seluruh lampu dipadamkan kota […]
Puisi: Kampung Tak Bernabi – Zelfeni Wimra
Zelfeni Wimra perkampungan kembali tenang setelah ayat terakhir alfatihah diaminkan lidah kami berhenti pada alif lam mim tiga huruf bersangkutan dalam rahasia mereka tak sempat jadi kalimah. kata alif: aku […]
Puisi: Menuju Rendang – Ramoun Apta (l. 1991)
Ramoun Apta Menuju Rendang jalan menuju rumahmu tinggi mendaki sedang langkahku tersandung di ceruk kuali. di atas papan racik ini rempah-rempah tinggal sampah santan pecah kayu ditinggal api. denting kelaci […]
Maklumat bagi Penyair: Apa dan Siapa Penyair Indonesia
Oleh Maman S Mahayana Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, belum ada satu buku pun yang memuat khusus biodata ringkas para penyair Indonesia. Kita memang mengenal beberapa buku sejenis, sebagaimana yang […]
Puisi: Gramofon Hindia, 2012 – Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Yulden Erwin 1 Sepotong cahaya krem perlahan melayang dalam cahaya lembut matahari senja, angin sebentar singgah menyapa ruang tamu. Kau pun teringat satu musim dingin paling kejam di Moskow […]
Puisi: Si Pengunjung Fana – Tia Setiadi
Tia Setiadi : Iman Budhi Santosa /1/ Selalu kau bandingkan gang-gang sempit di Malioboro Dengan centang perenang rute nasib di galur-galur telapak tanganmu Engkaulah burung yang berakhir Jauh dari rindang […]
