Taufik Ikram Jamil mungkin kita jumpa lagi pada malam empat persegi langsung saja bersalin terang dalam bayang di antara remang-remang bumbung melayang di samping embun menjingjing dingin sambil melupakan rama […]
Puisi: Tamu Misterius – Afrizal Malna
Afrizal Malna Sayang sekali puisi ini telah dihapus ketika aku akan membacanya. Seperti udara lembab yang menarik lenganku untuk memegang yang akan jatuh. Ada apa dengan menghapus? Lem, gunting, benang […]
Puisi: Percintaan Hulu dan Muara – Iyut Fitra
Iyut Fitra jangan pernah kau ragukan. ini bukan sajak terakhirku, kekasih sebagaimana hulu. ia selalu menyimpan rindu pada muara sebuah pertemuan yang tak pernah. hanya tumpukan dari gelisah lalu desir […]
Puisi: Istirahatlah Kata-Kata – Wiji Thukul (1963 – hilang 1998)
Wiji Thukul (1963 – hilang 1998) istirahatlah kata-kata jangan menyembur-nyembur orang-orang bisu kembalilah ke dalam rahim segala tangis dan kebusukan dalam sunyi yang mengiris tempat orang-orang mengingkari menahan ucapannya sendiri […]
Puisi: Prajurit Jaga Malam – Chairil Anwar
Chairil Anwar Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu? Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini […]
Puisi: Pacu Sapi di Simabur – Deddy Arsya (l. 1987)
Deddy Arsya (l. 1985) Di kepalamu ada sapi-sapi besar panjang bertanduk Berlomba lari di medan pacuan Membawa karavan yang di atasnya Masa silam duduk sendirian dengan cemeti di tangan Sapi […]
Puisi: Kolecer – Mugya Syahreza Santosa
Mugya Syahreza Santosa aku akan kehabisan bumbu bila harus menyulam bilik pondokmu untuk menghadang angin barat itu. aku pun akan kehilangan pohon keramat kampungku, hanya untuk membangun dinding kayu pada […]
Puisi: Bagaimana – May Moon Nasution
May Moon Nasution aku ingin melupakanmu, usai kau mengasah tubuhmu, pisau yang tak percaya dengan ketajamannya aku ingin melupakanmu, usai kau membakar, api yang tak tahu ke mana jilatan hendak […]
Puisi: Pitatah dan Pemiliknya – Alizar Tanjung
Alizar Tanjung si pemilik pitatah telah puas belajar pitatah, “si tuli peletus senapan” letus itu tak perlu membuatnya menutup telinga, “si buta peniup salung api” besar api di tungku tak […]
