Wiji Thukul (1963 – hilang 1998) Seumpama bunga Kami adalah bunga yang tak Kau hendaki tumbuh Engkau lebih suka membangun Rumah dan merampas tanah Seumpama bunga Kami adalah bunga yang […]
Puisi: Tetangga Sebelahku – Wiji Thukul (1963- hilang 1998)
Wiji Thukul (1963- hilang 1998) tetangga sebelahku pintar bikin suling bambu dan memainkan banyak lagu tetangga sebelahku kerap pinjam gitar nyanyi sama anak-anaknya kuping sebelahnya rusak dipopor senapan tetangga sebelahku […]
Puisi: Kota Cahaya – Isbedy Stiawan ZS (l.1958)
Isbedy Stiawan ZS (l. 1958) Kota Cahaya (tanjungkarang-telukbetung) (satu) sebuah kota cahaya lahir di wajahmu aku pun singgah. jika diperkenankan aku hendak mendirikan rumah di sini dengan pintu atau jendela […]
Puisi: Bajak untuk Petani – Sobron Aidit (1934-2007)
Sobron Aidit (1934-2007) Apakah yang lebih indah di dunia ini Selain mempertahankan tanah kepunyaan sendiri? Kalian berjuang untuk makan Di kampung halaman Kampung yang terasing oleh tangan-tangan laknat Tapi betapa […]
Puisi: Di Daun Tingkap Yang Patah Sebelah – Marhalim Zaini
Marhalim Zaini Dari lorong tubuhnya, terdengar sorak anak-anak, Memukul-mukul sayak. Rampak tempurung retak, “Pukimak! Jangan memekak!” Dulu, ia ibu segala ibu. Yang dari laut mengadu surut ke sungai-sungai yang beranak […]
Puisi: Ngaben – Pranita Dewi (l. 1987)
Pranita Dewi (l. 1987) 1. Hanya ada nyala, nyala, dan nyala serta senja yang karam perlahan di garis laut yang jauh: di sana, matahari, lentera kekal itu, setia menunggu abuku […]
Puisi: Apartemen Identitas – Afrizal Malna
Afrizal Malna Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya. Menatapnya. Menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang lain. Biji-biji bahasa berjatuhan. Seseorang melihatku melalui mata sebuah bangsa dari jendela apartemennya, […]
Puisi: Jembatan – Sutardji Calzoum Bachri
Sutardji Calzoum Bachri Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung air mata bangsa. Kata-kata telah lama terperang- kap dalam basa-basi dalam teduh pekewuh dalam Isyarat dan kilah tanpa makna. Maka aku […]
Puisi: Situasi – Chairil Anwar (1922-1949)
Chairi Anwar (1922-1949) …………………………… Tidak perempuan! yang hidup dalam diri masih lincah mengelak dari pelukanmu gemas gelap, bersikeras mencari kehijauan laut lain, dan berada lagi di kapal dulu bertemu, berlepas […]
