Oleh Hasan Aspahani DESA itu bernama Batang-batang Laok. Jaraknya 21 km dari Sumenep, di ujung timur Pulau Madura. Desa itu terhampar di kaki bukit, di tengah bentangan sawah yang bertingkat-tingkat. […]
Author: Editor
Puisi: Doa Bayang-Bayang – Ahmadun Yosi Herfanda (l. 1958)
Ahmadun Yosi Herfanda (l. 1958) jadikan bayangku pada tembok persis lekuk tubuhku agar aku mudah mengukurnya lukiskan wajahku pada cermin persis wajahku agar aku mudah mengenalnya lahirkan hatiku lewat mata […]
Puisi: Kabar Buruk dari Surga – Andi Amrullah (1941-2002)
Andi Amrullah (1941-2002) sebuah puisi mengantarku minum kopi sementara senja beringsut-ingsut ke tepi memberi salam kepada malam yang mengubur dendam dan sakit hati terbuktilah kabar bahwa di majelis umum perserikatan […]
Puisi: Sukma Pujangga – J.E. Tatengkeng (1907-1968)
J.E. Tatengkeng (1907-1968) O, lepaskan daku dari kurungan, Biarkan daku terbang melayang, Melampaui gunung, nyebrang harungan, Mencari Cinta, Kasih dan Sayang. Aku tak ingin dipagari rupa! Kusuka terbang tinggi ke […]
Puisi: Kucari Jawab – J.E. Tatengkeng (1907-1968)
J.E. Tatengkeng (1907-1968) Di mata air, di dasar kolam Kucari jawab teka-teki alam. Di kawan awan kian ke mari, Di situ juga jawabnya kucari. Di warna bunga yang kembang, Kubaca […]
Puisi: Orkes Pagi Hari – Mustafa Ismail
Mustafa Ismail – episode sebuah rumah Menulis perjalanan itu, bagai kembali dari sebuah pengasingan aku menemukan kembali rumah yang hilang sekian abad juga terminal yang ditinggal pergi tapi siapa mengerti […]
Puisi: Riwayat Kecil – Mustafa Ismail
Mustafa Ismail —- mengingat seorang penyair kita jalan kaki dari peunayong malam itu menempuh rumahmu malam basah kita belum makan. “Minum air putih saja,” katamu lalu aku membaca puisi, kau […]
Puisi: Setelah Air Mata – Mustafa Ismail
Mustafa Ismail kabar itu sudah kuduga: pantai telah berpindah dan pohon sala di pasar telah tumbang orang-orang mendaki bukit memahat batu: hidup nyaris tinggal sejengkal ada yang menangis sendirian ada […]
Puisi: Pada Sebuah Cafe – Mustafa Ismail
Mustafa Ismail dalam diam, aku terjemahkan sajak di keningmu berbaris bagai lampu-lampu di kotamu, dimana aku menemukan sebuah alamat yang terkoyak satu pulau yang seharusnya aku tenggelamkan setelah sejumlah cinta […]
