Anonim (1910) Sjair Anak Perempoean 1 Ini syair satu pelajaran, Buat anak perempuan punya aturan, Supaya bisa mendapat satu pikiran, Supaya menjadi suatu pengajaran. 2 Ini syair buat satu peringatan, […]
Puisi
Puisi: Dogma – Mahatmanto (1924-1997)
Mahatmanto (1924-1997) Dogma Kau katakan sempit menghimpit, karena jiwamu hidup, meletup! Kau pecahkan ruang lilipit. Tetapi….. tiadalah biji merasa tercepit oleh kulit. Hanya ketika biji bersemi, berkecambah, baru merasa, dan […]
Puisi: Pantai – Mahatmanto (1924-1997)
Mahatmanto (1924-1997) Pantai Tidak seorang pun yang mengikuti jejakku jejakku satu-satunya di sepanjang pantai terasing ini jejak yang segera akan hilang dijilat pasang Aku mencari-cari wajah di tiap gelora wajah […]
Puisi: Anonim – Mahatmanto (1924-1997)
Mahatmanto (1924-1997) Anonim Jika aku tahu bahwa aku akan mati dan lenyap serta tak seorang akan mengenang seekor anjing kesayangan pun tidak mengapa aku harus hidup dan mabuk serta mentersiakan […]
Puisi: Kepada Pujangga Dunia – Mahatmanto (1924 – 1997)
Mahatmanto (1924 – 1997) Kepada Pujangga Dunia Seperti burung laut, dengan liurnya dibuatnya sarang permai di gua, di tubir pantai tempat diam terletak telurnya tempat pecah merekahnya, melahirkan isinya tempat […]
Puisi: Sajak-Sajak Ultraviolet 18 – Mahatmanto (1924-1997)
Mahatmanto (1924-1997) Sajak-Sajak Ultraviolet 18 Aku bayangi bayanganku sendiri di sepanjang pantai berpasir ini sampai capai kaki melangkah Aku tidak bertemu seorang pun selain kerang dan karang di sana-sini kepiting […]
Puisi: Kembang Putih di Atas Perahu – Benny Arnas (l. 1983)
Benny Arnas (l. 1983) Kembang Putih di Atas Perahu Kularung ibu di samudera yang meliuk di taman tanpa tiang Ia hanya mengembara dengan biduk pelepah air mata, dengan sauh yang […]
Puisi: Menjadi Kambing Berjamaah – Benny Arnas (l. 1983)
Benny Arnas (l. 1983) Menjadi Kambing Berjamaah Orang-orang berkerumun. Dengan wajah yang penuh. Bibir yang merapal. Langit jatuh. Matahari tumbuh. Pohon-pohon melepuh. Bumi berpeluh. Ibu dan Anak mendekati. Ikut berkerumun. […]
Puisi: Cahaya Mendekap yang Membaca – HE. Benyamine (l. 1967)
HE. Benyamine (l. 1967) Cahaya Mendekap yang Membaca Aku menyeret badan Yang berserakan di jalan angin Tertembus pedang lantang menantang, “Akulah luka!” Berpangku di atas gelombang menghujat kesungguhan Menutup mata […]
