Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002) 1. Rumput. Ombakkah yang di laut. Hiu, ikan cucut, kau lupa siapa cucumu. Di hulu sungai badak. Salah srigala di belantara kota. Kamarku di sana, beratap […]
Puisi
Puisi: Mata Penyair – Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)
Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) Ketika terbuka jendela, terdengar hirukpikuk kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.” Rakyat yang miskin merangsak kemuka. “Kami […]
Puisi: Hai, Ma! – Rendra (1935-2009)
Rendra (1935-2009) Ma! Bukan maut yang menggetarkan hatiku, Tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya Ada malam-malam aku menjalani lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana Hawa dingin […]
Puisi: Filateli – Tjahjono Widijanto
Tjahjono Widijanto tak ada pahlawan lagi di negeri ini yang berani meludahi luka muka sendiri hanya ada senyum lewat bayang-bayang sembari teriakkan mimpi tanpa isi Rahwana telah warisi kita seribu […]
Puisi: Tel Aviv – Herdi SRS
Herdi SRS Di Tel Aviv Kecemasan kita bangkit dari malam luruh yang ghaib Angin mencium pertumpahan darah tapi di bar bar, pesta dansa berombak. Berdesah Serdadu siaga perang walau bom […]
Puisi: (Catatan-Catatan, hal. 40) – Seno Gumira Ajidarma (l. 1958)
Seno Gumira Ajidarma (l. 1958) (Catatan-Catatan, hal. 40) di atas rumah besi, langit bernyanyi, hujan tak turun, malam makin sesak bicara : tuan dan nyonya, mari kita minum gelas pecah […]
Puisi: Suluk Awang-Uwung, 2 – Kuntowijoyo (1943-2005)
Kuntowijoyo (1943-2005) Pengembara! Undang serigala menjilat jejakmu sampai pasir di gurun menghampar permadani pekat bagai ketiadaan Kau harapkan pelangi memencar lupakan. Juga matamu terpejam gelisah Ada yang tak kau tahu […]
Puisi: Suluk Awang-Uwung, 15 – Kuntowijoyo (1943-2009)
Kuntowijoyo (1943-2005) Yang di bawah surya diteduh kubah biru bagai sekuntum cempaka mekar dan mewangi: Yang hamba ialah yang mulia Engkau terpilih menjaga kebun impian Lihatlah! Di sore tanganmu berlumpur […]
Puisi: Cicuruk – Sandy Tyas (1939-2009)
Sandy Tyas (1939-2009) hidup yang indah ialah ini hari di mana para lelaki masih sempat mengerti kesetiaan bini di mana para bayi sempat merapatkan mulut di susu bundanya dengan mata […]
