Ali Hasjmy (1914-1998) Tanah Airku I Atas hamparan Samudera Hindia Bertaburan pulau hijau semilau, Diempasi ombak karang pantainya, Itulah gerangan Tanah Airku. Di situ daku dilahirkan Ibu, Di situ tertumpah […]
Puisi: Pagelaran Topeng – Refdinal Muzan (l. 1966)
Refdinal Muzan (l. 1966) Pagelaran Topeng Adakah kita tersesat dalam sebuah panggung Tiang sepancang menembus awan Umbai-umbai menjulai di lentik seri peri Pernak pernik mutu manikam Hentak gemuruh entah bertabuh […]
Puisi: Laut – Hr. Bandaharo (1917-1993)
Hr. Bandaharo (1917-1993) Laut (1) di malam hati rindu aku mencari laut ombak senantiasa bawa kenangan kapan saja ada kapal datang lampu-lampunya terang-benderang tapi kesannya keasingan di pantai ada pengemis […]
Puisi: Metropolis (1978) – Hr. Bandaharo (1917-1993)
Hr. Bandaharo (1917-1993) Metropolis (1978), X Untuk Joshi Hota Hanya kemenangan, percayalah, hanya kemenangan mampu mendukung kebenaran dan keadilan. Bukan kejujuran. Kejujuran ada di hati penyair yang memendam cita-cita dan […]
Puisi: Pengemis – Ali Hasjmy (1914-1998)
Ali Hasjmy (1914-1998) Pengemis Beri hamba sedekah, o tuan, Belum makan dari pagi, Tolonglah patik, wahai tuan, Seteguk air, sesuap nasi. Lihatlah, tuan, nasib kami, Tiada sanak, tiada saudara, Pakaian […]
Puisi: Sembilan Lirik Kasmaran – Beni Setia (l. 1954)
Beni Setia (l. 1954) Sembilan Lirik Kasmaran 1. terpancang pada perahu. sang layar berkebar-kebar dan geladak mengengadah menenggak awan. dihubung-hubungkan kepak rasa. ruh mendesah bagai daun di musim gugur 2. […]
Puisi: Pledoi bagi Kucing – Beni Setia (l. 1954)
Beni Setia (l. 1954) Pledoi bagi Kucing tuan dan nyonya, kucing adalah kucing rumah tak akan membuatnya jadi anjing, jadi ikan akuarium atau burung sangkar kucing adalah kucing! suka menyelinap […]
Puisi: (kita tidak sedang menunggu. Lepas dari kefanaan) – Beni Setia (l. 1954)
Beni Setia (l. 1954) (kita tidak sedang menunggu. Lepas dari kefanaan) kita tidak sedang menunggu. Lepas dari kefanaan dan meluncur masuk keabadian. Meski mungkin akan tetap menderita. Senantiasa, di sini, […]
Puisi: Catatan dari Serang – Putu Oka Sukanta (l. 1939)
Putu Oka Sukanta (l. 1939) Catatan dari Serang angin sepoi membangun badai ada aku rasakan dalam imbauan sinar bulan yang bergayut diubun-ubun kota serang sedalam apa lesu dibadan terhembus hilang […]
