J.J. Kusni (l. 1940) Catatlah May Kwee catatlah may kwee, catatlah bunga mei, sampaikan ke para ponakan katakan kepada anak-anak muda sangat kusayang yang kau tahu jangan malu mengaku kau […]
Puisi: Tentu Saja – J.J. Kusni (l. 1940)
J.J. Kusni (l. 1940) Tentu Saja tentu saja ada yang tak mengenal kemiskinan sedang pahitnya kutelan sepanjang usia maka namaku salah satu dari nama duka tentu saja ada yang tak […]
Puisi: Trucuk – J.J. Kusni (l. 1940)
J.J. Kusni (l. 1940) Trucuk 1. dari desa trucuk ini nampak puncak prambanan bagai jari menuding langit menunjuk jauhnya harapan pernah tiga tahun remaja dulu bersama penduduk aku jatuh-bangun mengejarnya […]
Puisi: Sjair Boenga Tjempaka – Anonim (1891)
Anonim (1891) Sjair Boenga Tjempaka Suwatu lagi bunga tjempaka; Rupanya bagus, bermega-mega Kuningnya amat bergelang-gelang Kalau terpandang jatohlah bimbang. Pada sangkaku bodoh yang hina, Patut pakeyan yang bijaksana Sebab rupanya […]
Puisi: Satoe Soewara dari Timor – C.T.B (Bintang Djohar, 1873)
C.T.B (Bintang Djohar, 1873) Satoe Soewara dari Timor Surat ini menghentar salamat, Samuanya ada teratur di sini, Oleh hati yang bersuka amat, Karna itu ku sudah mengurat ini. Slamat itu […]
Puisi: Pesta Telah Usai – Sukardhi Wahyudi (l. 1960)
Sukardhi Wahyudi (l. 1960) Pesta Telah Usai Dengan sari lautan sebutir kata gemetar menyambut gemuruh pesta di tepi sebuah taman embun pagi bergurau nakal membelah dada menusuk payudara kota di […]
Puisi: Sang Tokoh – Sukardhi Wahyudi (l. 1960)
Sukardhi Wahyudi (l. 1960) Sang Tokoh Kau kah lelaki penghuni rimba menjaga damar dan rotan dari jamahan sang dalang petualang mengisap sari pati meraba paksa keperawanan belantara meninggalkan koyakan pilu […]
Puisi: Bercermin dalam Diri – Sukardhi Wahyudi (l. 1960)
Sukardhi Wahyudi (l. 1960) Bercermin dalam Diri Kita adalah sampan sedangkan lautan hanya teka teki kejujuran burung-burung senja panen duka sudah lama kehilangan rimba dan para lelakinya dan ombak bukan […]
Puisi: Pandai Besi – Nursjamsu Nasution (1921-1955)
Nursjamsu Nasution (1921-1955) Pandai Besi Tempa terus pandai besi, Walau dengkang-dengking laga besi dan besi Rasa ‘kan meruntuhkan atap dinding kepalamu Walau merah menyilau panas api Rasa ‘kan menghanguskan isi […]
