Abdul Muin Daeng Miyala (1909-1969) Ada Aku Ada aku melihat alam, Alam luas alam permai: Datang Tuan ulurkan tangan, Pimpin daku ke dunia damai. Ada aku melihat alam, Alam buas […]
Puisi: Buruh – Abdul Muin Daeng Miyala (1909-1969)
Abdul Muin Daeng Miyala (1909-1969) Buruh Duduk aku hadapi meja Tulis buku banyak ragam Kopi masuk gula keluar Kapok dibeli koprah dijual. Semenjak pagi sudah begitu Sampaikan petang baru berenti […]
Puisi: Tujuh Hari di Malam yang Sama – Kedung Darma Romansha (l. 1984)
Kedung Darma Romansha (l. 1984) Tujuh Hari di Malam yang Sama lupakan mimpi tujuh malammu dan mulailah belajar berbohong. mari! sebentar lagi perburuan akan dimulai di tiap tikungan atau gang-gang […]
Puisi: Indonesia Tanah Airku – Abdul Muin Daeng Miyala (1909-1969)
Abdul Muin Daeng Miyala (1909-1969) Indonesia Tanah Airku Sebagai bulan yang bersembunyi di balik awan, adalah Indonesia tanah airku! Perlahan-lahan, awan kabut yang tadinya amat kebat meliputinya, mulailah […]
Puisi: Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar – Sjafrial Arifin (1949 – 2016)
Sjafrial Arifin (l. 1949 – 2016) Sebuah Surat Terbuka di Surat Kabar Dari sebuah teratak: Seorang kekasih menelantarkan pacarnya jadi sepi Seorang anak melupakan ibunya jadi jadi sepi Seorang kakak […]
Puisi: Sajak Sebutir Sajak – Noorca Marendra (l. 1954)
Noorca Marendra (l. 1954) Sajak Sebutir Sajak Sebutir sajak yang tak betah di kepala penyair telah keluar dan bunuh diri tadi malam. Itu berita pertama Kemudian, kabar lain mengatakan sebelum […]
