Linus Suryadi AG (1951-1999) 1 Kuinjakkan kaki Pertama kali Di benua Selatan Kenapa heran? Di kota Sydney Pagi dan sore Orang mengayun Kaki bersantai Kecuali tamu Tinggal landas Ah, siapa […]
Author: Editor
Puisi: Sasakala Hujan – Dino F. Umahuk
Dino F. Umahuk Puisikah atau wajahmu tak lagi bulan, begitu kaca Debaran dada yang kau pantulkan ke muka sungai terasa samar dan bayang-bayang, begitu riak terasa retak Menelusuri jejakmu terasa […]
Puisi: Vina Dad Mon Para Moya – Dino F Umahuk
Dino F. Umahuk Kubaca jejak kakimu di bebatuan kota Ternate Senyuman yang dulu kau sematkan di tepi Danau Tolire Masih tersimpan di rerimbun daunan pala Lalu angin pantai Sulamadaha memapah […]
Puisi: Gambir – Ratna Ayu Budhiarti
Ratna Ayu Budhiarti Raungan sirine di kejauhan dan monas di arah mata angin yang entah Barat atau Timur dari tempatku berdiri. Sebuah televisi di atas kepala menjajakan tawaria selebriti tertangkap […]
Puisi: Di Stasiun Jatinegara – Ratna Ayu Budhiarti
Ratna Ayu Budhiarti Orang-orang memakan masa depan Dari semangkuk nasi siap saji, bubur dan mie instan Sambil mengunyah pertarungan mereka sendiri dengan lahap, Matanya tak berhenti memutar Mencari-cari alamat Di […]
Puisi: Kemudian Senyap, Kemudian Gelap – Linus Suryadi AG (1951-1999)
Linus Suryadi AG (1951-1999) Kemudian senyap, kemudian gelap engkau berjalan demikian tegap Jika hari, engkau tahu, berayun dalam lena kabut-kabut terbantun Jatuh di tanah-tanah yang anggun jatuh kita yang sangsi: […]
Esai: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan – Sofyan RH. Zaid
Oleh Sofyan RH. Zaid* “Puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahaan hati.” – Goenawan Mohamad Gairah Kepenyairan Seperti yang diucapkan Borges, yang paling pahit dari kepenyairan adalah ketika […]
Puisi: Bukit Turi – A. Warits Rovi
A. Warits Rovi di pelataran bukit ini kenangan lelap dan bangkit kembali menjadi hijau daun-daun turi rupanya musim-musim juga ada di matamu menyimpan rahasia biografi sungai yang pernah menghanyutkan kenangan […]
Puisi: Menulis Engkau – Nermi Silaban
Nermi Silaban di kertas yang kutulis menyerupai api, kemenyan, dan tarian bahkan tempatku datang dan pulang berbenah dalam dadamu kau begitu terampil membuatku sibuk membajui namamu dengan kata-kata jatuh pada […]
