• Mata Puisi
  • Vlog Juru Baca
  • Arsip Horison 1966 – 1990
Antologi Hari Puisi

Menu

Skip to content
  • Beranda
    • Esai
    • Buku
    • Puisi
    • Penyair
    • Wawancara
  • Antologi Tumbuh
  • Situs Bagus
  • Daftar (sementara) Penyair

Author: Editor

Wawancara: Maman S. Mahayana – Puisi Bukan Sekadar

Posted on 27 Desember 201627 Desember 2016 by Editor

MAMAN S. Mahayana, anggota dewan juri Anugerah Buku Hari Puisi Indonesia 2014, diwawancarai oleh Sastra Digital, tentang penjurian, proses pemilihan buku, puisi Indonesia, kepenyairan, harapan pembaca, dan lain-lain. Berikut petikannya: Bagaimana […]

Posted in Wawancara Tagged Hari Puisi, Maman S. Mahayana, Wawancara Leave a comment

Esai: Kredo Puisi – Sutardji Calzoum Bachri

Posted on 27 Desember 201627 Desember 2016 by Editor

Sutardji Calzoum Bachri Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu […]

Posted in Esai Tagged Esai, Kredo Puisi, Sutardji Calzoum Bachri Leave a comment

Puisi: Kembalikan Indonesia Padaku – Taufiq Ismail

Posted on 27 Desember 201627 Desember 2016 by Editor

Taufiq Ismail Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga, Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat, sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian, Hari […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Taufiq Ismail Leave a comment

Esai: Membuat Sajak, Melihat Lukisan – Chairil Anwar (1922-1949)

Posted on 27 Desember 20163 Januari 2017 by Editor

Oleh Chairil Anwar (1922-1949) SAJAK terbentuk dari kata-kata, seperti juga sebuah lukisan dari cat dan sehelai kain, atau sebuah patung dari pualam, lempung dsb. Tapi mereka yang mengalami keterharuan ketika […]

Posted in Esai Tagged Chairil, Chairil Anwar, Esai Leave a comment

Puisi: Berdarah – Sutardji Calzoum Bachri

Posted on 27 Desember 201629 Desember 2016 by Editor

Sutardji Calzoum Bachri Hari ini aku berdarah. kapak hitam menakik almanakku pecahlah rabuku mengalirlah pecahlah seninku mengalirlah pecahlah selasaku mengalirlah pecahlah jumatku mengalirlah darah mengalir dalam denyut dalam debar. darah […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Sutardji Calzoum Bachri Leave a comment

Puisi: Dalam Doaku – Sapardi Djoko Damono

Posted on 27 Desember 201629 Desember 2016 by Editor

Sapardi Djoko Damono Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara Ketika […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Sapardi Djoko Damono Leave a comment

Puisi: Pada Sebuah Pantai: Interlude – Goenawan Mohamad

Posted on 27 Desember 201627 Desember 2016 by Editor

Goenawan Mohamad Semua ini hanya terjadi dalam sebuah sajak yang sentimentil. Yakni ketika pasang berakhir, dan aku menggerutu, “masih tersisa harum lehermu”; dan kau tak menyahutku. Di pantai, tepi memang […]

Posted in Puisi Tagged Goenawan Mohamad, Puisi 1 Comment

Puisi: Daerah Perbatasan – Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)

Posted on 27 Desember 20162 Januari 2017 by Editor

Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) I Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati. Tak boleh lagi ada kebimbangan memilih keputusan : Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi. Kemerdekaan […]

Posted in Puisi Tagged Puisi, Subagio Sastrowardoyo Leave a comment

Puisi: Pamflet Cinta – Rendra (1935-2009)

Posted on 27 Desember 20164 Januari 2017 by Editor

Rendra (1935-2009) Ma, nyamperin matahari dari satu sisi. Memandang wajahmu dari segenap jurusan. Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan. Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku. Aku merindui wajahmu. Dan aku melihat […]

Posted in Puisi Tagged Pamflet Cinta, Puisi, Rendra Leave a comment

Posts navigation

← Older posts
Newer posts →

Kategori

  • Agenda (14)
  • Anekdot (10)
  • Apresiasi (1)
  • Buku (10)
  • Dari Kami (7)
  • Esai (136)
  • Lokomoteks (2)
  • Majas (2)
  • Penyair (13)
  • Puisi (2,026)
  • Puitika (3)
  • Wawancara (2)

Arsip

RSS Antologi Hari Puisi

  • Puisi: Lawen Legespun – Junewal Muchtar (1956-2015)
  • Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli
  • Esai: Apa yang Dibaca Chairil?
  • Puisi yang Bagus (2): Yang Mengantar pada Kematangan
  • Puisi yang Bagus (1): Kemahiran Menggunakan Perangkat Puitika
  • Puisi: Apakah Air Mata Seorang Asing Cuma Air yang Mengalir Membasahi Pipi Mereka Begitu Saja? – Moch Aldy MA
  • Esai: Tugas Seorang Penyair – Hasan Aspahani
  • Esai: Perahu sebagai Tamsil Tubuh, dari Fansuri hingga Rengganis
  • Puisi: Ngagel – Mardi Luhung (l. 1965)

Tag

Abdul Hadi WM Acep Zamzam Noor Agam Wispi Agenda Amir Hamzah Anekdot Avianti Armand Ayatrohaedi Badruddin Emce bukhari aljauhari Chairil Anwar Dami N. Toda Djajanto Supra Doddi Ahmad Fauji D Zawawi Imron Esai Frans Nadjira Goenawan Mohamad H. Amang Rahman Jubair Hasan Aspahani Hasif Amini HPI2017 HR. Bandaharo J.E. Tatengkeng Korrie Layun Rampan Mawie Ananta Jonie Mh. Rustandi Kartakusuma Muhammad Yamin Nina Minareli Penyair Pranita Dewi Puisi Putu Vivi Lestari Rendra Rida K. Liamsi Rivai Apin Saini KM Sapardi Djoko Damono setia naka andrian Subagio Sastrowardoyo Sutardji Calzoum Bachri Tjak S. Parlan Toeti Heraty Trisno Sumardjo Wiji Thukul

Hari Puisi | Antologi Puisi Indonesia

Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat - "Catetan Th. 1946" - Chairil Anwar

Tulisan Terbaru

  • Puisi: Lawen Legespun – Junewal Muchtar (1956-2015)
  • Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli
  • Esai: Apa yang Dibaca Chairil?
  • Puisi yang Bagus (2): Yang Mengantar pada Kematangan
  • Puisi yang Bagus (1): Kemahiran Menggunakan Perangkat Puitika

Kontak Kerjasama

jurubaca@gmail.com (Email)

Kategori

  • Agenda (14)
  • Anekdot (10)
  • Apresiasi (1)
  • Buku (10)
  • Dari Kami (7)
  • Esai (136)
  • Lokomoteks (2)
  • Majas (2)
  • Penyair (13)
  • Puisi (2,026)
  • Puitika (3)
  • Wawancara (2)

Telusuri Isi

Arsip

Antologi Tumbuh

Situs ini berupaya memuat puisi Indonesia dari titik awal sejauh yang bisa kami telusuri, hingga ke titik paling mutakhir di mana kami yakin puisi tersebut telah atau akan meninggalkan jejak yang  mewakili perkembangan dan pencapaian serta memberi sumbangan yang memperkaya cara ucap dan tema dalam puisi kita.

Sejak 2016 | Dikelola oleh Hasan Aspahani