Samadi (1918-1958)Hanya ‘Nak Tahu Bahwa Tak Tahu Selangkah mau ke padang ilmuSeribu kali bertambah dungu,Habislah rambut mencari ilmu,Hanya ‘nak tahu, bahwa tak tahu. Sumber: Senandung Hidup (Pustaka Jaya, 1975) lewat […]
Author: Editor
Puisi: Filsafat dalam Bioskop – Husen Mulahele (1944-1988)
Husen Mulahele (1944-1988)Filsafat dalam BioskopSajak Gula-gula Cahaya datang menyentuh matakusetelah singgah padamu, seketikasetelah menyentuh gunung Cahaya turun meraba gunungsetelah pandangmu seketikasinggah meraba mataku Seketika Tiba-tiba ada tanganmu dalam gelapmemintalmintal jemariku. […]
Puisi: Rendezvous – Sajak Tauge -Husen Mulahele (1944-1988)
Husen Mulahele (1944-1988)Rendezvous – Sajak Tauge Kubuka topi dan ia terkejutAlangkah jauhnya jarak hidup kamiLalu gelisahnya, juga gelisahku terasa asing sekaliDan kasihanku terasa tak keramat lagi. Setelah dua tahun berpisah […]
Puisi: Sekali Lagi di Surabaya – Sajak Kangkung -Husen Mulahele (1944-1988)
Husen Mulahele (1944-1988)Sekali Lagi di Surabaya – Sajak Kangkung Sambil dua perahuterguling dari matamu,putus tali layarnyayang kau sangkutkan pada hatiku.Kau berdesah: “Siapakah abangmentetaskanku dalam kesunyian?” Adalah dua harumerayapi batang waru.Risihmu […]
Puisi: Puisi – Sandy Tyas (1939-2009)
Sandy Tyas (1939-2009)Puisi suara itu apakah terlalu sayang padakudi udara 28.000 kaki jarakantara awan dan bumiketika kubayangkan keping-keping aluminiumpecah terhambur bersama serpih dagingkusuara aneh itu mengusikkuia bergulung dalam gelombang di […]
Puisi: Surat untuk Sandy Tyas – Sandy Tyas (1939-2009)
Sandy Tyas (1939-2009)Surat untuk Sandy Tyas tyas yang baik,apa kabar nasibmu sekarang?kulihat sebuah pestolsedang ditodongkan ke tengkukmudan sebuah liang kuburansudah disiapkan di depanmutangis duka, bunga duka keluargamudoa kematian, slamatan kematiansedang […]
Puisi: Zone Timur – Sandy Tyas (1939-2009)
Sandy Tyas (1939-2009)Zone Timur sebuah situasiyang telah didramatisiroleh spesialis-spesialiskekuasaansetiap kali kita saksikanpelukan-pelukan yang humanairmata keharuanyang lain membungkukmengisi formulirdalam tirai besipolisi penjaga perbatasanmatanya kocaksambil memeriksa pasporia telah terbiasamenyaksikanjiwa keluarga yang terbelahbarat […]
Puisi: Wajah yang Lain – Deri Hudaya (l. 1989)
Deri Hudaya (l. 1989)Wajah yang Lain Terlalu lama aku tak melihat wajahmu… Di sini, di rumah-rumah petani, kemiskinan diterimaSebagai dalih untuk saling berkhianat dengan santaiDi jalan-jalan raya, di hari-hari besar, […]
Puisi: Mantra Pengantar Tidur – Deri Hudaya (l. 1989)
Deri Hudaya (l. 1989)Mantra Pengantar Tidur Setelah bersusah payah jadi sarjanapendidikan susastra akhirnya saya bisamembuat sebuah mantra sederhanayang tidak sempat saya ucapkan kepadapacar karena ia—puji Tuhan—terlalu cepat mati. Mantra ini […]
