Irvan Syahril (l. 1997) Sebelum Meninggalkan Banda Neira Kabar dari lembar koran dan radio di penginapan adalah pengumuman, adalah sinyal penjemputan, aku melihatmu berkemas dengan Beethoven yang menyala. Bom meledak, […]
Puisi
Puisi: Semangat Orang-orang Pesisiran – Akhmad Sekhu (l. 1971)
Akhmad Sekhu (l. 1971) Semangat Orang-orang Pesisiran Kuikuti arah angin yang membuat semangat kita meluap-luap Suaramu yang keras tegas dalam logat kental ngapak-ngapak Lihatlah, geliat jiwa-jiwa yang tiada pernah keluhkan […]
Puisi: Pulang – Akhmad Sekhu (l. 1971)
Akhmad Sekhu (l. 1971) Pulang : catatan untuk Abdul Aziz, kakakku Aku akan pulang membawa kegelisahan dalam rindu yang mencemaskan, adakah kau simpan luka lama dengan merampungkan kenangan kelam, dari […]
Puisi: Kasidah Ketabahan – Akhmad Sekhu (l. 1971)
Akhmad Sekhu (l. 1971) Kasidah Ketabahan Sekian lama embun bertahan di pucuk daun kini terpelanting, pecah ke udara gelisah beribu tahun penyair menanti makna puitik setetes embun yang sanggup berembesan […]
Esai: Pembaca – Hasif Amini
Pembaca Oleh Hasif Amini “BAGAIMANA sebenarnya puisi bekerja atau diolah di benak pembacanya?” tanya secarik surat tanpa tanda tangan. Tergantung masing-masing pembaca, tentu, dan tergantung puisinya juga, pasti. Atau […]
Puisi: Toko Kaji Dunya Kalah Jimat – Kedung Darma Romansha (l. 1984)
Kedung Darma Romansha (l. 1984) Toko Kaji Dunya Kalah Jimat kata orang tua dulu, hanya keturunan kaji yang bisa munggah kaji. maka dengan bekal silsilah, toko kelontong, dan sawah Kaji […]
Puisi: Ketika Malam Menyentuhmu – Kedung Darma Romansha (l. 1984)
Kedung Darma Romansha (l. 1984) Ketika Malam Menyentuhmu ketika malam menyentuh tubuhku, tubuhmu menjadi dingin. angin di luar ditenangkan suara kodok kawin “kapan kita mengalahkan suara kodok kawin?” dan bancet-bancet […]
Puisi: Perawi Rempah – Ahmad Yulden Erwin (l. 1972)
Ahmad Yulden Erwin Perawi Rempah 1 Minggu pagi menggigil di sayap burung undan, seperti ratusan minggu pagi lainnya, menyusun sesatu kenangan. Kau mencari beberapa onggok pulau di Timur dengan wangi […]
Puisi: Musuh yang Terbunuh – Sugiarta Sriwibawa (1932 – 2009)
Sugiarta Sriwibawa (1932 – 2009) Musuh yang Terbunuh Letus bedil menjerit jauh Sesayup malam yang berjaga hiba Matinya anak murtad yang meronta Letus menjerit hatinya (Jahatku karena laparku Laparku karena […]
