Ahmad Yulden Erwin Aku pergi -Tanza 1 Hujan belum turun pada baris sajakmu, juga ke jalan berbatu dan atap rumahmu. Malam yang tersangkut ranting kering tak juga bergeming oleh tatap […]
Puisi
Puisi: Tangan Seorang Buruh Batu-arang – Agam Wispi (1930-2003)
Agam Wispi (1930-2003) trem lari-lari dibawah rintik salju wajah dalamnya tiada sehijau rumput negeriku disini dibumi kelabu hanya pohon natal bagai pagoda tinggal sendiri dan sepi menanti musimsemi trem lari-lari-anjing […]
Puisi: Bajak Laut – Mas Marco Kartodikromo (1890-1932)
Mas Marco Kartodikromo (1890-1932) “Ha! Ini tanah bagus sekali, Sudah tentulah kita diami, Jalan mana yang kita lalui, Buat merampas tanah ini!” Begitu berkata bajak laut, Melihat tanah tumbuh juwawut, […]
Puisi: Katekisasi – Korie Layun Rampan
Korie Layun Rampan Hatiku yang hitam telah memetik bedil Dengan tangan kekasih Di ujung pelarian aku masih coba memandang: nihil Terlihat dalam diriku pertempuran kaum salih Dengan hati merah aku […]
Puisi: Sepasang Bibir di dalam Cangkir – Kurniawan Djunaedhie (l. 1956)
Kurniawan Djunaedhie (l. 1956) Aku sedang duduk di dalam kafe. Pelayan kafe meletakkan cangkir kopiku pelan-pelan di atas meja. Aroma kopi mengudara, membuat kaca kafe berembun seperti hari menjelang senja. […]
Puisi: Tuhan Sedang Menguji Kehebatan Saya – Kurniawan Djunaedhie
Kurniawan Djunaedhie Seorang perempuan mengirimi saya bunga. Aku mencintai kamu, katanya membuat saya ternganga. Diam-diam hati saya berbunga-bunga. Gila. Dari orang sedunia, dia hanya mencintai saya. Bukankah ini gila? Rupanya […]
Puisi: Interpretasi – Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria Sajak adalah tangan-tangan yang bekerja Sajak adalah parang penebas hutan Sajak adalah cerana Sajak adalah kelapangan Sajak adalah kerendah-hatian Sajak adalah angin menepuk kuping Sajak adalah suara […]
Puisi: Menara – Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria Bila bulan tanduk kerbau mengintai di balik pintu surau Bergegaslah nenek menyandang telekung suaranya parau Hari-hari diburu kerja, ke sawah dan ke ladang Dalam dera kenang dilusuhkan […]
Puisi: Rubaiyat Matahari – Jamal D. Rahman
Jamal D. Rahman 1 dengan bismilah berdarah di rahim sunyi kueja namamu di rubaiyat matahari kau dengar aku menangis sepanjang hari karena dari november-desember selalu lahir januari 2 engkaulah sepi […]
