Rusli Marzuki Saria Sajak adalah tangan-tangan yang bekerja Sajak adalah parang penebas hutan Sajak adalah cerana Sajak adalah kelapangan Sajak adalah kerendah-hatian Sajak adalah angin menepuk kuping Sajak adalah suara […]
Puisi: Menara – Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria Bila bulan tanduk kerbau mengintai di balik pintu surau Bergegaslah nenek menyandang telekung suaranya parau Hari-hari diburu kerja, ke sawah dan ke ladang Dalam dera kenang dilusuhkan […]
Puisi: Rubaiyat Matahari – Jamal D. Rahman
Jamal D. Rahman 1 dengan bismilah berdarah di rahim sunyi kueja namamu di rubaiyat matahari kau dengar aku menangis sepanjang hari karena dari november-desember selalu lahir januari 2 engkaulah sepi […]
Puisi: Bayang-bayang – Jamal D. Rahman
Jamal D. Rahman pada usia berapakah matahari menciumimu? usia beredar sepanjang ajal: perjalanan yang tak sampai-sampai pada hujan sementara percakapan dengan dinding tak pernah sampai ke cakrawala. berapakah usia matahari, […]
Puisi: Sebuah Kehadiran – Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria kepada leon agusta I rumah dengan sarang panah unggun bermula dari kekinian padaku datang rangsang berbenah tapi aku waspada jalan keyakinan II berburu di padang-padang rimba sasapan […]
Puisi: Beri Aku – Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria Beri aku cinta yang sederhana, sayang Cinta yang tergantung di daun-daun Cinta yang menyembul di runcing-runcing ilalang Cinta yang mengalir di sungai-sungai gunung Beri aku senyum yang […]
Penyair: Amir Hamzah yang Membuka Kemungkinan Baru
Oleh Hasan Aspahani PENYAIR Amir Hamzah hidupnya tidak panjang. Ia lahir di Tanjungpura, Langkat, Sumatera Utara, 28 Februari 1911. Kelak setelah menikah dengan Tengku Kamaliah, putri Sultan Langkat, Amir Hamzah […]
Puisi: Mendalam – Armijn Pane (1908-1970)
Armijn Pane (1908-1970) Laut berlari mendatang, Bersua pantai landai, Memecah menghebat buih, Menaik damai tenang merata. Angin berlari mendatang, Bersua gunung mendaki, Gemuruh menghebat embus, Menaik damai tenang merata. Kasih […]
Puisi: Kebaya Biru – Armijn Pane (1908-1970)
Armijn Pane (1908-1970) Waktu senja gelap-gelapan, Gunung Guntur tegak menggagah, Kanannya langit kemerah-merahan, Embun mendatang kapas digobah. Danau hening, gelap airnya, Matahari hilang tinggal sinarnya, Langit terang tiada bercacat, Belakang […]
