Wendoko (l. 1968) Dongeng Sebelum Tidur (15) Kau suka menyelipkan melati ke rambutmu. Harumnya jadi aneh waktu bercampur bau rambut – lebih lembut dari sitrun. Tetapi sitrun adalah harum yang […]
Puisi: Ketika Langit dan Bumi Tak Lagi Terbayangkan – Leon Agusta (1938-2015)
Leon Agusta (1938-2015) Apakah aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu Tak tahulah. Sungguh tak lagi terbayangkan Tapi barangkali ketika itu di suatu senja yang asing Aku pernah punya wajah […]
Puisi: Fantasme Aquarel – Arif B. Prasetyo
Arif B. Prasetyo Liat dan telanjang lebih ringan dari burung ia turun. Kolam gemetar. Cahaya gentar. Seakan jam tergelincir memasuki mulut air. Sisa sayap dari lilin mengirimkan harum tamarin ke […]
Puisi: Pilihan – A. Mustofa Bisri (l. 1944)
A Mustofa Bisri (l. 1944) Pilihan Antara kaya dan miskin tentu kau memilih miskinLihatlah kau seumur hidup tak pernah merasa kaya Antara hidup dan mati tentu kau memilih matiLihatlah kau […]
Puisi: Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat – A. Mustofa Bisri (l. 1944)
A. Mustofa Bisri (l. 1944) Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat Kalau kau sibuk berteori saja Kapan kau sempat menikmati mempraktekkan teori? Kalau kau sibuk menikmati praktek teori saja Kapan […]
Puisi: Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu – Mustofa Bisri (l. 1944)
A. Mustofa Bisri (l. 1944) Kita Semua Asmuni atawa Asmuni Cuma Satu Kita semua Asmuni Kita satu sama lain Tidak lain Asmuni semua Anak-anak Asmuni Orang-orang Asmuni Tuan Asmuni Raden […]
Puisi: Puisi, Rimba atau Taman Bunga – Sosiawan Leak
Sosiawan Leak apa yang bisa diberikan puisi di tengah senyuman tuhan; tsunami dan banjir bah formalin, bakso tikus, longsoran sampah flu burung dan demam berdarah? apakah puisi berteriak sekencang reformasi […]
Puisi: Mencintaimu – Toni Lesmana
Toni Lesmana aku telah menemukanmu, kemudian kasmaran dan mabuk aku telanjang tanpa masalalu. bercinta siang malam di atas sajadah, di dingin trotoar, di hangat ranjang di landai pantai juga puncak […]
Puisi: Rumah Tembakau Menunggumu – Sindu Putra
Sindu Putra rumah tembakau ini menunggumu tanganmu yang kelam, mengetukkan salam lima Maulid berselang kau tak kunjung pulang melanglang sebagai buruh migran ke negeri jiran lima Lebaran topat berlalu dedare […]
