Karta Kusumah (l. 1989)President Suite Room Sesekali aku ingin tidur dalam pelukan sajak,sembunyi di dalam duvet setebal 14 senti,dan udara dengan suhu 16 derajat sambil menonton travel channelyang memutar perjalanan […]
Puisi: Mangkuk Laut – Sartika Sari (l. 1992)
Sartika Sari (l. 1992)Mangkuk Laut aku sering datang berpunggung pasir,duduk dan menyinggahkan bibir di tepimuangin kuisap, menuju palung terdalam darisebuah puisi yang lama bermukim di lambungsetiap hari, rindu seperti perahu, […]
Puisi: Perantau – Sartika Sari (l. 1992)
Sartika Sari (l. 1992)Perantau pagi-pagi benar, kudengar suara ibu seperti desing pelurumenembus kabuttapi sudah harus kususuri lagi jalan inidi antara sisa keramaian semalam,atau bekas ciuman sepasang gelandanganjauh di dalma tubuhku, […]
Puisi: Maut – Sartika Sari (l. 1992)
Sartika Sari (l. 1992)Maut untuk bertemu, aku mesti menunggu begitu lamake semua jalan, yang banyak patung kenangan ketika langit benar-benar melengkung di bibirmu,atau mungkin bola mataku yang terkungkung bingungpelepasan, kukira […]
Puisi: Hari Libur – Tjak S. Parlan (l. 1975)
Tjak S. Parlan (l. 1975)Hari Libur Besok hari libur. Hari tenangbagi sebuah keluarga sederhana. Keluarga sederhana itu membeli sebuah koranhari Minggu dan mulai membacanya:(1) tak ada yang perlu dikhawatirkanperihal kegaduhan […]
Puisi: Februari – Tjak S. Parlan (l. 1975)
Tjak S. Parlan (l. 1975)Februari Februari terdampar di bandar-bandar kecil,seperti para kekasih yang rindudan tak kunjung bertemu. Februari adalah pertemuan di sebuah rel keretayang lurus menjauh dalam lambaian tangandi belakang […]
