A. Damhoeri (1915-1993)Mengapa Dibiarkan Daku Bercinta Mengapa dibiarkanPaku merata,Tunduk dibuluh,Melingkar betung. Mengapa dibiarkanDaku bercintaDuduk mengeluhmenyadar untung. Sumber: Panji Pustaka, 17 Februari 1933; dalam “Biografi A. Damhoeri dan Karyanya”, Pusat Pembinaan […]
Puisi: Di Pekuburan – A. Damhoeri (1915 – 1993)
A. Damhoeri (1915 – 1993)Di Pekuburan Sedang terik panas mata’ri,Silau gemilau Berilau-kilau,Aku sampai ke pemakaman sepi. Paw’na membelai lemah gemulai,Berisi berbisik, Kerisik mersik,Mendesir, mendesai, pimping menjelai. Dara jelita dua berteman.Datang […]
Puisi: Sekuntum Kembang di Balik Pagar – A. Damhoeri (1915-1993)
A. Damhoeri (1915-1993)Sekuntum Kembang di Balik Pagar Ingin daku hendak memetik,Kembang sekuntum di balik pagar;“Jangan dijemba!” Suara menghardik,“Ta’ betahkah engkau menahan sabar?” Pandaikah engkau menyimpa kembang,Tidakkah layu dalam jambangan?Aku undur […]
Puisi: Menit – Avianti Armand (l. 1969)
Avianti Armand (l. 1969)Menit Di kotak telepon, cahaya membiru seperti memar.Di dering ketiga, kita sama-sama tahu –huruf-huruf setebal kitab itu tak akan bersahabat.Cuma nama-nama yang tak kita kenal.Dan siklus yang […]
Puisi: Pendongeng Mataram – Sindu Putra (l. 1968)
Sindu Putra (l. 1968)Pendongeng Mataram matamu yang terpejam memiliki sihirtanganmu yang berani mempunyai kegaiban sejatidan dongeng yang kau tuturkanakan abadi sepanjang jaman maka kau kisahkan untukkubetapapun silam malam inijangan tinggalkan […]
Puisi: Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair – Sindu Putra (l. 1968)
Sindu Putra (l. 1968) Doa Seorang Calon Penyair di Makam Seorang Mantan Penyair aku curisegenap kata . . . . . . . dan bukan katayang dijadikan milikmuuntuk menguruk birahi […]
