Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002) Macbeth Gagak hitam terbang dalam kelam Mestinya pada malam begini buta hantu-hantu menyiapkan kerja durjana tombak tajam menghunjam korban : melepas setan-setan dari kurungan Gagak hitam […]
Author: Editor
Puisi: Sumber – Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002)
Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002) Sumber Selalu kureguk sinar dari matamu keyakinan menghargaihari tak sangka helai demi helai daun turun mengubur tubuhmu dengan kelam Begitulah: matahari terbaring membakar rumput […]
Esai: Bicara tentang Sejarah Kritik Sastra
Catatan: Tampaknya majalah Horison sejak awal lahir dengan pikiran yang menyeluruh untuk mengembangkan kehidupan sastra yang sehat. Termasuk memikirkan dan mendudukkan fungsi kritik. Tulisan dan pemikiran tentang kritik yang […]
Puisi: Cinta Sepi – Medy Loekito (l. 1962)
Medy Loekito (l. 1962) Cinta Sepi dalam sepi kutanam cinta bagai fatamorgana menjelang pagi di akhir kokok ayam yang pertama kau pergi, lalu sepi tinggal cinta melangkah pergi lewat jalan […]
Puisi: Kampung Naga – Medy Loekito (l. 1962)
Medy Loekito (l. 1962) Kampung Naga di sini keindahan bernyanyi tanpa ada telinga yang mendengar dan keramaian merebak tanpa pandang yang terengah tangga tanah basah adalah lambaian petani tua pada […]
Puisi: Upaya Menulis Sajak Cinta – Ramoun Apta
Ramoun Apta Upaya Menulis Sajak Cinta Pada sajak pertama, ingin ia menulis cinta Dengan segala maksud dan tujuannya. Sebab bila ingin akhir yang bahagia ia percaya Di awal jumpa cinta […]
Esai: Sapinya Al-Fian dan Kegigihan Kenangan
Oleh Hasan Aspahani DI dalam kepala seorang penyair, kenangan barangkali bisa juga berada dalam situasi yang senantiasa surealistis. Menyair bagi penyair itu adalah upaya untuk mengembalikan kenangan yang surealistis itu […]
Puisi: Surat Cinta – Meidy Loekito (l. 1962)
Meidy Loekito (l. 1962) Surat Cinta akan kutanam pokok-pokok melati di hatiku dan kuantar bunga-bunganya kepada hatimu (Feb. 1997) Sumber: Selendang Pelangi (IndonesiaTera, 2006)
Puisi: Di Hadapan Pedagang Panci Keliling – Ramoun Apta (l. 1991)
Ramoun Apta (l. 1991) Di Hadapan Pedagang Panci Keliling Dengan peribahasa yang lunak Lidah ketimbang tahi gigi, Kau bisikkan tentang panci baru ke telingaku. Lalu gemuruh pesta seakan menemu goyang […]
