Siti Nuraini (l. 1930) Perempuan Perempuan lena mematah-matahkan seranting kering, bersandar di jendela tinggi empat persegi, rahasia kejauhan di luar memanggil, di hatinya hingga rasa ganjil Jiwanya mesra, danau terbuka […]
Author: Editor
Puisi: Pencarian – Siti Nuraini (l. 1930)
Siti Nuraini (l. 1930) Pencarian Karena Godot tak datang sungkan berpesan alamat tiada kemungkinan seribu satu; bagai pengembara jahudi kuriling bepergian negeri mana ditakdir kediamanku. Juni 1968 Sumber: Sastra No. […]
Puisi: Transit – Siti Nuraini (l. 1930)
Siti Nuraini (l. 1930) Transit Ruang berisi kaca. Teguk minuman timangan mata mengajuk jawaban masa datang. Peristiwa improvisasi tanpa rangka, tersendiri saat mulus sempurna; cagar sementara. Apa manfaat mekar dan […]
Esai: Yang Asyik Berlari di Pundak Para Gergasi
Oleh Hasan Aspahani KALAU saya satukan Goenawan Mohamad dan Subagio Sastrowardoyo dalam satu kelompok yang sebutlah namanya penyair intelektualis dengan sajak yang liris-rasional, maka mudah sekali membedakan sajak-sajak keduanya dengan […]
Puisi: Das Kalte Herz – Ayatrohaedi (1939-2006)
Ayatrohaedi (1939-2006) Das Kalte Herz Kabut pegunungan menutup lembah suram cahya matari di danau bawah Kabut pegunungan menutup lembah dingin hati mengetuk pintu Hati dingin, hati yang dingin, bagai kabut […]
Puisi: Tanah Sunda Senjahari – Ayatrohaedi (1939-2006)
Ayatrohaedi (1939-2006) Tanah Sunda Senjahari Di barat langit terbakar matahari yang tenggelam. Dan senja yang pijar bersiap menyambut malam. Pucuk-pucuk gunung merenung. Dan hidup sehabis senja ‘kan masuk dunia lain […]
Puisi: Makin Kukenal – Ayatrohaedi (1939-2006)
Ayatrohaedi (1939-2006) Makin Kukenal Makin kukunal diriku makin tak kukenal diriku: Apakah ia yang selalu ragu untuk berkata “tidak”, ataukah yang selalu tak bisa mengatakan “ya” pada saatnya yang tepat […]
Puisi: Misa Arwah – Dea Anugrah (l. 1991)
Dea Anugrah (l. 1991) Misa Arwah sebab kecemasan itu tak pernah selesai kini kutempatkan diri di antara wajah pucat rumah duka dan kaca-kaca jendelanya yang memantulkan kegetiran tak bernama kulihat […]
Esai: La Galigo dan Sebuah Tepukan Kecil Faisal di Pundak Kita
Oleh Hasan Aspahani KENAPA Faisal Oddang menulis puisi-puisi dalam “Manurung” (Gramedia, 2017) dalam bahasa Indonesia? Kenapa tidak dalam bahasa Bugis, bahasa yang tentu ia kuasai, dan merupakan bahasa teks “La […]
