A Muttaqin The Cracked Eggs Tirai panggung dibuka: dalam siluet remang sebutir telur berangsur retak menetaskan kunang-kunang menetaskan kunang-kunang. Tidak, tidak, itu bukan kunang-kunang mereka adalah tujuh pemuda gondrong kurus […]
Author: Editor
Puisi: Betis Kekasih – Citra D. Vresti Trisna
Citra D. Vresti Trisna Betis kekasih : kekasihku, dedes di betismu, kasih semiotika yang mandul mengeja ardhanareswari definisi dan bahasa yang diperkosa kamus di betismu kah peta yang mengantar kami […]
Puisi: Max Hav – Gantari Yasa
Gantari Yasa Max Hav pertengahan malam terjadi pembunuhan besar-besaran tak ada bercak darah, hanya segumpal pikiran tentang longsor, gagal panen, upeti, hingga burung yang berak di kepala remaja wanita tak […]
Puisi: Aku Kini – Gantari Yasa
Gantari Yasa Aku Kini /1/ aku kini debu, menumpuk di kaca mataku berusaha mengembalikan waktu ke liku-liku jalan tempat kita berbincang, tentang tumpukan kendaraan yang telah merenggut kita dari senja […]
Puisi: Soreang-Ujungberung – Hasan Bisri BFC
Hasan Bisri BFC Soreang-Ujungberung :buat Rischa Antika pada akhirnya aku harus bergegas memunguti kerumunan waktu berebut bersama derum angkot dan asap knalpot kendaraan roda dua di setiap perempatan asap polusi […]
Puisi: Diah Pitaloka – Hasan Bisri BFC
Hasan Bisri BFC Diah Pitaloka : dian rusdiana tatkala selampai cinta kaulambaikan aku tak segera menghidu wangi asmara rasaku masih meraba-raba Gajah Mada atau Hayam Wurukkah sejatimu, Akang? serupa matang […]
Puisi: Ulang Tahun dalam Akuarium – Toni Lesmana
Toni Lesmana Ulang Tahun dalam Akuarium September adalah gajah merah jambu yang berenang riang. Ceria, Kami mendaki belalainya. Menyalakan api dalam air. Api yang kami curi dari dalam hati kami. […]
Puisi: Memujamu Hyang Maha Kosong – IAO Suwati Sidemen
IAO Suwati Sidemen Memujamu Hyang Maha Kosong karena pernah Kau pinang aku maka jadilah aku percaya padaMu aku mencintaiMu dengan kewajaran percintaan tanpa tubuh sebab percintaan adalah tanda di […]
Puisi: Amba – Yona Primadesi
Yona Primadesi Amba Namaku Amba; kijang berkepala perempuan. Lututku pernah gemetar, untuk setiap panah, dilepaskan bersama kalungan bunga, asap dupa dan sari berwarna darah; mengusungku dengan keranda menuju halaman istana. […]
