Arif Rizki Aku tangkap kau dengan mata terbuka! Di hadapanmu, pupilku sempit dan lebar seketika. Sebagai sebuah kenangan, kau akan menjelma. Menetaplah pada ingatanku, bukan sepintas saja. Di sana, segala […]
Puisi
Puisi: Pantai Pelabuhan Tua Ampenan – Sindu Putra
Sindu Putra tiada puisi, di tengah sajakku kata-kata basah kuyup, kehilangan raut di Ampenan memasuki bagian malam yang paling gelap penyair bisu itu menuliskan syair pada basah pasir; laut beku, […]
Puisi: Kukirimkan Engkau ke Negeri Mimpi – Syaukani al Karim
Syaukani al Karim anak-anakku: AAA, SSS, APGS, dan FAYA Kukirimkan engkau ke negeri mimpi, tanah yang disenandungkan setiap bunda, Mungkin sudah kau cecap asinnya, lewat air mata yang tumpah ke […]
Puisi: Ada Jarak – Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001)
Piek Ardijanto Soeprijadi berdiri di pinggang bukit meniti garis alit pertemuan bumi dengan langit sadar ada jarak antara sini dengan sana tapi entah berapa jauhnya mungkinkah kita meraih satu titik […]
Puisi: Belajar Menghitung Hari – Muhammad Daffa
Muhammad Daffa 1 Berapa usia larut dalam kabut Menggembala di padang kesesatan Berjalan mengoyak sepi Kerap abai kepadanya 2 Jalan terpanjang sudah terpampang. Cahaya menebas ruang Bayang-bayang meninggalkan ruang Bayang-bayang […]
Puisi: Beberapa Kata Tentang Cinta – Muhammad Daffa
Muhammad Daffa (1) Cinta adalah denyut tak teraba, desir tanpa aba-aba. Bagiku ia adalah sebuah keniscayaan yang semestinya memang ada dalam hidup. Bukan semata semu dalam redup. Seseorang bijak pernah […]
Puisi: Jalan Tuntang – Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001)
Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001) mendung tebal menjemputku mengucapkan selamat datang ketika aku sampai ke jalan tuntang yang masih seperti dulu juga lengang menjelang senja kuperlambat langkahku menatapi pepohonan tepi jalan […]
Puisi: Ketika Mendengar Tangis – Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001)
Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001) kaudengarkah tangis bocah itu sejak tadi suaranya menebari desa sunyi merambati bibirbibir air sepi mungkin ibunya ke pasar kota belum kembali ajaklah kemari kita bawa nembang […]
Puisi: Kupandang Langit dari Beranda – Budiman S. Hartoyo (1938-2010)
Budiman S. Hartoyo (1938-2010) Baru jam 9 pagi, aku masih ingat, engkau berdiri di beranda itu. Gerimis belum sampai menderas menjadi hujan, Matahari masih sempat menganyam ribuan jari-jari berwarna, membiaskan […]
