Frans Nadjira Musium Pada rak ke dua Lemari musium terletak tengkorak. Jalan menganga di mata lobang hidung. Burung-burung bersarang dalam karang. Sambil menyucut jari pemuda itu menghapus uap di kaca […]
Puisi
Puisi: Sahibulhikayat di Negeri Mantang Arang – Dian Hartati
Dian Hartati perkenalkanlah tuan puan, sahibulhikayat sedang bertandang ke negeri mantang arang di negeri itu ia terperangah mendapati pesisir yang ramai lalu bersadai, menjelingkan mata sahibulhikayat menegaskan pendengaran menajamkan mata […]
Puisi: Kepada Seniman – Asmara Hadi (1915-1976)
Asmara Hadi (1915-1976) Tahukah teman, wahai seniman Di manakah tempatmu di dalam dunia? Bukan di mercu kedirianmu Tapi di sini, antara manusia Tuan bukan putra dewata Tuanpun hanya manusia saja! […]
Puisi: Musik di Waktu Malam – Amal Hamzah (1922-1987)
Amal Hamzah (1922-1987) Di atas mejaku bertumpuk buku Pekerjaan sehari-hari Mencari ilmu menambah budi. Kawanku setia, kawanku berkata Kawanku karib, bukan manusia… Suatu malam beta bertekun Membaca kitab penuh bertimbun […]
Puisi: Chicago – Medy Loekito
Medy Loekito terbentuk dari angin jalanan kota saling menghadang saling mengakhiri terbentuk dari jalan kota angin saling menghampiri saling menikam
Puisi: Sebuah Perjalanan – Eka Budianta (l. 1956)
Eka Budianta (l. 1956) Sebuah Perjalanan kekasihmu telah pergi jauh melalui liku-liku di pegunungan menyusuri jalan pasir sepanjang pantai penuh dengan sampan-sampan yang kini tinggal siluet di hatinya kekasihmu telah […]
Puisi: Sajak 20 Butir Leunca Muda – Diah Hadaning (1940 – 2021)
Diah Hadaning kekasihku, santunan segala cinta tak pernah berkecambah dalam pusar Adam dan Hawa tak pernah ingkar setia hari-hari selalu berpacu dengan umurmu adakah kau tahu berkali telah kusentuhkan bunga […]
Puisi: Hantu-Hantu Tanjungkarang – Dina Oktaviani
Dina Oktaviani 1 apa yang membuatmu gemetar kini malam hanya sesuatu yang kerap lewat apa yang belum kauketahui tentang perihnya kekasih yang dengki, teman yang pudar di angkasa kaulah seseorang […]
Puisi: Sebuah Kehadiran – Rusli Marzuki Saria
Rusli Marzuki Saria kepada leon agusta I rumah dengan sarang panah unggun bermula dari kekinian padaku datang rangsang berbenah tapi aku waspada jalan keyakinan II berburu di padang-padang rimba sasapan […]
