F. Rahardi lampu-lampu yang asin dan lidah-lidah yang menyala telah mulai menggaruk-garuk dirinya dengan mata yang sudah benar-benar putus asa mulut yang selama ini resmi ditempeli lidah; tidak dapat berbuat […]
Puisi
Puisi: Bambukah – F. Rahardi
F. Rahardi bambukah matamu hingga terus-terusan meruncing hingga selalu menusuk-nusuk hingga mataku kauiris-iris kaupotong- potong bambukah mulutmu bambukah hidungmu lehermu bambukah celanamu hingga kaupotong-potong hingga kaubelah-belah hingga kau- sayat-sayat tipis […]
Puisi: Bocah Pemancing Ikan – Saut Situmorang
Saut Situmorang – untuk Vasko Popa seorang bocah kecil memancing di danau dan mendapatkan bulan bulan itu lalu dipecahkannya dan keluarlah matahari karena terlalu panas matahari itu meleleh di dalam […]
Puisi: Nyanyian Kota Peradaban – Ahmadun Yosi Herfanda (l. 1958)
Ahmadun Yosi Herfanda – jakarta di kota peradaban orang-orang mencari tuhan di bar-bar dan bursa-bursa perempuan, bank-bank dan perkantoran. politikus pun mengaum: di mana tuhan di mana? birokrat menjawab sambil […]
Puisi: Obsesi Futurista – Ahmadun Yosi Herfanda (l. 1958)
Ahmadun Yosi Herfanda (l. 1958) manusia masa depan berdiri tegak di layar komputerku. di tangan kanannya jaringan internet di tangan kirinya hutan lebat menghijau rambutnya mengkilat tanpa shampo giginya kristal-kristal […]
Puisi: Aku Sih Maklum-Maklum Saja – Darmanto Jt
Darmanto Jt Kau menipuku Dalam ketakutanmu kehilangan aku Aku faham. Kau mendustaiku Dalam usahamu menyenangkan aku Aku faham. Kau diam Memandang tanganku merayap di […]
Puisi: Percakapan dengan ZI – Rida K Liamsi
Rida K Liamsi Aku memilih tidur melintasi tahun. Membiarkan suara terompet dan dentum kembang api tenggelam dalam gemuruh sakal. Aku lelap dalam desir yang selalu membuat aku tersihir. Desau yang […]
Puisi: Tempias – Ibrahim Sattah (1945-1988)
Ibrahim Sattah (1945-1988) Teringat cerita cok-cok kelupit tulang daing* Menghitung hitung jari sepuluh Diluar tempias sampai ke lasa** Alangkah sukanya masa kanak alangkah riuh Di laman pun jadi asal dapat […]
Puisi: Piknik 55 – Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002)
Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002) Kereta terakhir menderit di ujung stasiun. Telah habis hari ini perjalanan bersama, senja di balik bukit- bukit kelabu. Telah lalu umur hari, satu dari panjangnya rasa. […]
