Surya Gemilang (l. 1998) Puisi buat Kau yang Merasa Rapuh ibu menulisku bukan sebagai sajak, dan di jantungnya tak pernah tertanam satu pun puisi. ia pun tak hendak menulisku sebagai […]
Puisi
Puisi: D-N – Surya Gemilang (l. 1998)
Surya Gemilang (l. 1998) D-N kau pernah bersembunyi di jaringan internet lalu membakar arsip kenanganku. kau pernah bersembunyi di balik jarak yang menghubungkan puisi dengan kesedihan sebelum menggigilkanku dengan hujan […]
Puisi: Sekumpulan Anak – Surya Gemilang (l. 1998)
Surya Gemilang (l. 1998) Sekumpulan Anak kami telur, hanya menggigil dalam lemari salju, ingatan tentang bokong ayam yang hangat perlahan membeku. kami telur, tak akan menetas di tanganmu, kami menanti […]
Puisi: Kesaksian Sebuah Mobil – Surya Gemilang (l. 1998)
Surya Gemilang (l. 1998) Kesaksian Sebuah Mobil bukan kecepatan ini sungguh membuatku takut, tapi gumpalan awan badai bermunculan dari rambutnya seputih mata mayat tersimpan pada bagasi, dengan tubuh terkoyak gigi-geligi. […]
Puisi: Draft 1 – Salman Aristo (l. 1976)
Salman Aristo (1976) DRAFT 1 Beri aku draft 1 ciummu. Biar kujilat mentah muncratan energi itu. Lalu kekap versi akhirnya, yang menolak purna. Sajaki aku cantik darah katamu. Sajaki aku […]
Puisi: SEBAB – Ibrahim Sattah (1943-1988)
Ibrahim Sattah (1943-1988) SEBAB ingin kujanjikan laut jadi gurun ikan dan sekalian hewan pindahlah ke bulan sebab laut sebab pantai sebab laut bernama laut sebab pantai bernama pantai sebab maut […]
Puisi: KAKI – Ibrahim Sattah (1943-1988)
Ibrahim Sattah (1943-1988) KAKI ada kaki kaki kau ada kuku kuku kau ada katak katak kau ada kuda kuda kau ada kuli kuli kau tokkek kuku kuli kuku kau kaki […]
Puisi: KAU – Ibrahim Sattah (1943-1988)
Ibrahim Sattah (1943-1988) KAU kuku karang kuku kau kuku laut kuku kau kuku ombak kuku cahaya suara karang suara kau suara laut suara kau suara ombak suara kau mengapa hilang […]
Puisi: Akan Kucium Penderitaan dan Malapetaka – Muhammad Ali Fakih (l. 1988)
Muhammad Ali Fakih (l. 1988) Akan Kucium Penderitaan dan Malapetaka Akan kucium penderitaan dan malapetaka dengan bibirku yang pucat ini Mataku terus Kau hadiahi kemurungan Ke dalam suaraku yang lemah […]
