Gracia Asri Migrasi dari Bibir ke Puisi Berapa kardus yang kamu perlukan untuk mengemas dua belas tahun asap dan lima cangkir kopimu setiap hari? Aku mencarikan tali, perekat plastik hitam […]
Puisi: Requiem – Gracia Asri
Gracia Asri Requiem mereka sudah berangkat dari tubuh dan dua puluh empat kerbau ikut mengantar aku yang masih pada tubuh ingin ikut merasa, merasa melambaikan tangan. lalu rumah-rumah bertanda tanduk […]
Puisi: Kolam Ikan – Gracia Asri
Gracia Asri Kolam Ikan telanjang menghadap alam senja tidak selalu berwarna jeruk langitkah yang berkaca pada telaga atau telaga yang memeluk awan rasa sepoi dingin menumbuhkan hati sampai bersinar seperti […]
Puisi: Kepulangan Kelima – Irwan Bajang (l. 1987)
Irwan Bajang (l. 1987) Kepulangan Kelima 1 Melewati depan rumahmu, lampu desa yang remang mengejekku halimun turun perlahan menjadi selimut sepi yang menakutkan membawa lari rinduku pada perjumpaan Seperti jalan […]
Puisi: Mimpi-mimpi Sakit Panas – Nersalya Renata (l. 1981)
Nersalya Renata (l. 1981) Mimpi-mimpi Sakit Panas 1sebuah lingkaran api. seekor harimau besardi sisi kanan. memandangku. harimau itu mundur.mengambil ancang-ancang. lalu melompaticincin api di atasku. dalam slow motionaku mengamati bagaimana […]
Puisi: Khayalan untuk Nenekku – Nersalya Renata (l. 1981)
Nersalya Renata (l. 1981) Khayalan untuk Nenekku 1 selembar uang plastik : cukup untuk membayar tagihan telepon. listrik, dan belanja-belanji 30 tahun kedepan. 2 robot untuk membersihkan rumah, halaman, memasak, […]
Puisi: Lima Gambar di Langit-langit Kamar – Nersalya Renata (l. 1981)
Nersalya Renata (l. 1981)Lima Gambar di Langit-langit Kamar Gambar 1 seorang lelaki dengan hati yang berisi 3 kuntum bunga: mawar putih, anggrek bulan ungu, dan krisan kuning Gambar 2 ibu […]
Puisi: Lingkaran di Bawah Pohon Pertemuan – Dedisyah (l. 1977)
Dedisyah (l. 1977) Lingkaran di Bawah Pohon Pertemuan Zappa. Zappa. Di bawah naungan pohon pertemuan, duduk bersama di lingkaran Menghayati napas dan tulang punggung. Menyadari diri sendiri, menyapa diri sendiri, […]
Puisi: Gambir – Mega A Noviandari
Mega A Noviandari Gambir duduk denganmu dekat peronmenunggu waktu yang irimembawaku pergiseperti seorang kepala stasiuntelah kuhadapi banyak kepergianyang kian sempurna, kian bebas hujan tak menuda kedatangannya jelang malam jadi biasa, […]
