Yusrizal KW (l. 1969) Lapar meja makan meredam bau darah sarapan pagi berjingkat di jari-jari garpu tak ada yang mesti didendang hari ini kompor meledak jauh hari sebelum jam masak […]
Puisi: Nihil – Yusrizal KW (l. 1969)
Yusrizal KW (l. 1969) Nihil : camilo jose cela hutan itu, menjelmakan anak-anak berpisau tanpa pikiran, berjalan menuju ladang hitam yang kau tunggu bersama keluarga: membunuh hari depan dengan menghanyutkan […]
Puisi: Huma yang Perih – D. Zauhidhie (1934-1984)
D. Zauhidhie (1934-1984) Huma yang Perih tiada lagi kerbau menguak gemertuk roda cikar terengah-engah sarat beban memuat padi kelapa dan umbi tiada punggung-punggung dan bahu-bahu menghambin lanjung penuh berisi terong […]
Puisi: Pengembara di Jalan Ujung – D. Zauhidhie (1934-1984)
D. Zauhidhie (1934-1984) Pengembara di Jalan Ujung Di ujung jalan berdebu engkau termangu lelaki berompi beledru Kala sebekas terlupa jalan lain ke roma hatimu malam gelap Kerikil menguap pecut mendera […]
Puisi: Kepada Paduka Puisi – D. Zauhidhie (1934-1984)
D. Zauhidhie (1934-1984) Kepada Paduka Puisi Kucarikan tiang dan balokan Paku dan papan Walau untuk itu aku jadi tukang besi Menebang pohon di hutan Kubangun rumahmu Di tanah yang luas […]
Puisi: Sekamar dengan Mayat – D. Zauhidhie (1934-1984)
D. Zauhidhie (1934-1984) Sekamar dengan Mayat Empat buah lubang peluru di punggungnya Tembus ke sebelah lagi meluhak Tubuhmu yang melunjur kemanusiaan yang lacur Dibidik dari belakang lalu sembunyi Kuselusuri dadamu […]
Puisi: Melankolik – D. Zauhidhie (1934-1984)
D. Zahidhie (1934-1984) Melankolik selelanya anjing kuduk menari-nari di pekuburan gadis mati sunyi derap kakinya pedang mencincang langit yang gamang tapi bulan sipit mau jua ziarah walau disinggung muram dan […]
Puisi: Burung-burung Bersarang di dalam Sajakku – Ahmad Nurullah (l. 1964)
Ahmad Nurullah (l. 1964) Burung-burung Bersarang di dalam Sajakku Itulah peristiwa paling penting yang amat menentukan jalan hidupku. Mengekalkan takdirku. Yakni: Pada suatu sore, ketika kugubah sepotong sajak, dan kupacak […]
Puisi: Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu – Ahmad Nurullah (l. 1964)
Ahmad Nurullah (l. 1964) Seseorang Berdiri di Tepi Sajakmu Seseorang berdiri di tepi sajakmu. Wajahnya sepi, seperti sebuah kuil terpacak di lereng bukit. Sepasang matanya kering, seperti selongsong kulit laba-laba. […]
