Sides Sudyarto DS (1942-2012) Teratai muda itu telah kehabisan air mata Ia menyanyi sejak abad pertama kehidupan Matahari telah menguras seluruh air danau Tanpa alasan. Lautan kecil yang terdiri dari […]
Author: Editor
Puisi: Ulang Tahun Sebuah Tiang Gantungan – Sides Sudyarto DS (1942-2012)
Sides Sudyarto DS (1942-2012) Inilah, barangkali saat paling duka bagiku Di hari ulang tahunmu ini, tak bisa kukalungkan Sebuah karangan bunga pun, pada lehermu. Dengan anggunnya, kau berdiri tegak Bagaikan […]
Puisi: Gabai – Abrar Yusra (1943-2015)
Abrar Yusra (1943-2015) Gabai dahan ke matahari gabai terbang burung terkurung ufuk gabai pendek tangan alam Gabai pekik Saijah gabai rindu dan sakit menyeru Adinda dalam hiru biru dan mau […]
Puisi: Karuhun – Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002)
Wing Kardjo Wangsaatmadja (1937-2002) 1. Rumput. Ombakkah yang di laut. Hiu, ikan cucut, kau lupa siapa cucumu. Di hulu sungai badak. Salah srigala di belantara kota. Kamarku di sana, beratap […]
Puisi: Mata Penyair – Subagio Sastrowardoyo (1924-1995)
Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) Ketika terbuka jendela, terdengar hirukpikuk kota. “Apa saja yang sudah kuberikan padamu,” kata penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.” Rakyat yang miskin merangsak kemuka. “Kami […]
Puisi: Hai, Ma! – Rendra (1935-2009)
Rendra (1935-2009) Ma! Bukan maut yang menggetarkan hatiku, Tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya Ada malam-malam aku menjalani lorong panjang tanpa tujuan kemana-mana Hawa dingin […]
Puisi: Filateli – Tjahjono Widijanto
Tjahjono Widijanto tak ada pahlawan lagi di negeri ini yang berani meludahi luka muka sendiri hanya ada senyum lewat bayang-bayang sembari teriakkan mimpi tanpa isi Rahwana telah warisi kita seribu […]
Puisi: Tel Aviv – Herdi SRS
Herdi SRS Di Tel Aviv Kecemasan kita bangkit dari malam luruh yang ghaib Angin mencium pertumpahan darah tapi di bar bar, pesta dansa berombak. Berdesah Serdadu siaga perang walau bom […]
Puisi: (Catatan-Catatan, hal. 40) – Seno Gumira Ajidarma (l. 1958)
Seno Gumira Ajidarma (l. 1958) (Catatan-Catatan, hal. 40) di atas rumah besi, langit bernyanyi, hujan tak turun, malam makin sesak bicara : tuan dan nyonya, mari kita minum gelas pecah […]
