Oleh Arco Transept BUKU kumpulan puisi Romansa Perjalanan karya Kirdjomuljo membuat saya membayangkan seorang penyair yang tidak berhenti pada sebuah pencarian. Dengan puisi-puisinya kita melihat dia mencari hakikat hidup lewat […]
Author: Editor
Puisi: Via Dolorosa – Gerson Poyk
Gerson Poyk makin terasa ada kesementaraan berbunga dalam dada bila kematian tadi di bayang sendiri tanah kelahiran selalu menerima kepedihan umur sampai pun suara seru: aku pun pergi tua selalu […]
Puisi: Jumpa Tuhan – Maman S Mahayana
Maman S Mahayana Aku jumpa tuhan di Seoul di antara daun-daun yang jatuh menyambut musim gugur di belantara mekar mawar sepanjang musim dan pergantian cuaca yang mewartakan tanda-tanda aku menemukan […]
Puisi: Di Kantor Imigrasi – Maman S Mahayana
Maman S Mahayana Segalanya bergerak seperti angin berkesiur berserakan catatan dan tanya-jawab dua pemuda India, mungkin mahasiswa tangannya menari-nari mulut menyemburkan tumpahan kalimat ringkas dijawab petugas cantik “Esok kembali, tak […]
Puisi: Migrasi – Gol A Gong
Gol A Gong Jauh dari sarang mewah luwak gelisah Para ular menyantap teman-temannya di TV Kampungnya direndam api Luwak duduk di jendela hotel Rambutnya perak tertimpa matahari sore Laba-laba raksasa […]
Puisi: Ular Berkepala Ratu – Gol A Gong
Gol A Gong Seekor ular keluar dari kedai kopi. Dia mabuk. Dia terpesona melihat baliho sang ratu. Dia bersolek di cermin pecahan batu. Mematut-matut ingin serupa manusia satu. Dipoles bibirnya […]
Puisi: Sehingga Kabut – Ags Arya Dipayana
Ags Arya Dipayana Aku ingin sekali berkata-kata dengan suatu bahasa yang kau mengerti benar baik bunyi maupun maknanya. Sehingga dapat kau pahami sesuatu yang bergerak di seberang kabut, sehingga dapat […]
Puisi: Percakapan Seusai Makan – Ags Arya Dipayana (1961-2011)
Ags Arya Dipayana (1961-2011) “Suatu kali ingin kukenangkan kembali semerbakmu.” Ia menangkupkan sendok dan garpu di atas piringnya. Waktu makan telah usai dan ia tak ingin perduli pada lapar yang […]
Puisi: Kepada Ch. Anwar Mendiang – Mh. Rustandi Kartakusuma (1921-2008)
Mh. Rustandi Kartakusumah (1921-2008) Di atas pusingan api yang berbusa kau terjatuh ke dunia ini, seperti kucing ke atas kakiknya yang empat. Dayu guruh yang meloporimu lari ke balik langit […]
