Arsyad Indradi (l. 1949) Berangkat Pulang Di atas batu langit kian kuning Sungai di mana matamu mengaca Ikanikan berenang di hatimu Apakah mengukir jauh perjalanan Ke kutub mana kita pulang […]
Puisi
Puisi: Reruntuhan Hujan – Arsyad Indradi (l. 1949)
Arsyad Indradi (l. 1949) Reruntuhan Hujan Pagi tak jadi sempurna. Menatap pintu langit Siapa berlari bebasah perih di sana? Di dalam hujan. Mestinya tak perlu risau.. Di dalam rindu. Mestinya […]
Puisi: Gunung Bromo – Slamet Sukirnanto (1941-2014)
Slamet Sukirnanto (1941-2014) Gunung Bromo Buat: kawan-kawan dari Universitas Erlangga Malam dan lautan pasir dihapus kegelapan Angin mati meskipun tubuh berdekatan Sepanjang jalan mendatar dan meraba sepi Puncakmu anggun! Engkau […]
Puisi: Catatan Perjalanan – Isma Sawitri (l. 1940)
Isma Sawitri (l. 1940) Catatan Perjalanan I Demi laut yang gemerlap demi langit yang tiada demi alam raya dan manusia yang bekerja maka di hadapanmu Tuhan limpahkan sehari penuh kegembiraan […]
Puisi: Ubud – Isma Sawitri (l. 1940)
Isma Sawitri (l. 1940) Ubud Yang emas adalah padi yang hijau adalah padi yang bernas sesungguhnya padi yang bergurai kiranya padi inilah kebenaran pertama sebelum yang lain lain karena laparlah […]
Puisi: Pantai Utara – Isma Sawitri (l. 1940)
Isma Sawitri (l. 1940) Pantai Utara luruskan pandang ke daratan tandus, ke petak-petak garam ke laut lepas, layar putih-putih, perahu-perahu bebas O laut Jawa di belakang desa-desa sengsara laut Jawa […]
Puisi: Tiga Serangkai – Isma Sawitri (l. 1940)
Isma Sawitri (l. 1940) Tiga Serangkai Tiga serangkai lampu beca ya mustapa ya mustapa tiga serangkai lampu beca di sisi kiri di sisi kanan yang satu berkaca merah satunya lagi […]
Puisi: Perayaan Kekalahan – Ibe S. Palogai (l. 1993)
Ibe S. Palogai (l. 1993) Perayaan Kekalahan aku tafsir canggung pena dan gulungan lontara yang saling memunggungi di atas meja tua sejak kisah seorang gembala perang ingin ditulis, keduanya berselisih: […]
Puisi: Alat Peraga Perang – Ibe S. Palogai (l. 1993)
Ibe S. Palogai (l. 1993) Alat Peraga Perang ia duduk berpangku tangan di hadapannya sebuah peta membentang ia pandang dengan mata mengenang dua musim hujan telah ia kuasai di kursinya […]
