Gol A Gong Jauh dari sarang mewah luwak gelisah Para ular menyantap teman-temannya di TV Kampungnya direndam api Luwak duduk di jendela hotel Rambutnya perak tertimpa matahari sore Laba-laba raksasa […]
Puisi
Puisi: Ular Berkepala Ratu – Gol A Gong
Gol A Gong Seekor ular keluar dari kedai kopi. Dia mabuk. Dia terpesona melihat baliho sang ratu. Dia bersolek di cermin pecahan batu. Mematut-matut ingin serupa manusia satu. Dipoles bibirnya […]
Puisi: Sehingga Kabut – Ags Arya Dipayana
Ags Arya Dipayana Aku ingin sekali berkata-kata dengan suatu bahasa yang kau mengerti benar baik bunyi maupun maknanya. Sehingga dapat kau pahami sesuatu yang bergerak di seberang kabut, sehingga dapat […]
Puisi: Percakapan Seusai Makan – Ags Arya Dipayana (1961-2011)
Ags Arya Dipayana (1961-2011) “Suatu kali ingin kukenangkan kembali semerbakmu.” Ia menangkupkan sendok dan garpu di atas piringnya. Waktu makan telah usai dan ia tak ingin perduli pada lapar yang […]
Puisi: Kepada Ch. Anwar Mendiang – Mh. Rustandi Kartakusuma (1921-2008)
Mh. Rustandi Kartakusumah (1921-2008) Di atas pusingan api yang berbusa kau terjatuh ke dunia ini, seperti kucing ke atas kakiknya yang empat. Dayu guruh yang meloporimu lari ke balik langit […]
Puisi: Di Tanganmu – Kirdjomuljo (1930-2000)
Kirdjomuljo (1930-2000) Kepada siapa akhirnya berjuta hati menatap Kepada mereka yang bersedia berbagi hati kepadanya Kepada siapa akhirnya suara menguap Kepada mereka yang bersedia suara kepadanya Aku tidak tahu kau […]
Puisi: Catatan Kaki Sehabis Demonstrasi – Radhar Panca Dahana
Radhar Panca Dahana aku melihat diam tak seorang saja tapi satu bangsa kulihat batu padahal manusia menunggu waktu padahal sia sia di ini negeri apa pun boleh terjadi tapi jangan […]
Puisi: Mengenang Kemiskinan – Asep Sambodja (1967-2010)
Asep Sambodja (1967-2010) teman setiaku adalah lapar hidup cuma sekedar bayang-bayang tak tahu mau berbuat apa mau ke mana yang sudi menemaniku hanyalah lapar seperti orang bodoh menerima dengan diam […]
Puisi: Cermin, Sungai, Puisi – Tia Setiadi
Tia Setiadi untuk Jorge Luis Borges /I/ Bagaimana bila satu petang kau bercermin Dan kau pandang di sana bukan wajahmu? Melainkan riak senja yang mengalir, Arus awan di langit, dan […]
