Fikar W Eda kutikam belati di perut Aceh mengalir darah di sungai-sungai sekelompok anak-anak telanjang hiraukan luka kutikam belati di perut Aceh mengalir darah di sungai-sungai bulan gelisah saksikan luka […]
Puisi
Puisi: Bunga dan Peluru – Fikar W Eda
Fikar W Eda engkau bertepuk tangan ketika aku selesai merangkai bunga engkau tersipu ketika bunga itu kukalungkan di lehermu giliranku yang pilu ketika bunga dan lehermu ditembus peluru Banda Aceh, […]
Puisi: Empat Burung dalam Dongeng Tidurmu – Komang Ira Puspitaningsih
Komang Ira Puspitaningsih (1) Malaikat tersedu Tiga pendeta sangsi Berulang menimbang mawas diri :adakah kematian jadi jalan paling suci meski dosa tak pernah luput menghampiri diri? Ini harus dilalui Bukankah […]
Puisi: Satyawati – Gunawan Maryanto
Gunawan Maryanto Di dalam kabut ini, Palasara, renggut aku Habisi amis tubuhku sesuai janjimu Lalu pergilah. Biarkan sepi Yamuna Dan wangi tubuhku yang tersisa Dari persetubuhan kita Sebab aku anak […]
Puisi: Mengenang Bandung dari Jauh – Kurnia Effendi
Kurnia Effendi Jalan-jalan basah menuju puncak bukit, hutan kecil, rimbun daun Jalan-jalan rindang dengan pohon yang setia menjadi payung Jalan-jalan yang teranyam rumit, gang-gang dengan rumah yang rapat Jalan-jalan yang […]
Puisi: Jalan Menuju Wanasalam – Dahta Gautama
Dahta Gautama Menuju rumahmu, menyebabkan aku menempuh angin. Hujan dalam beberapa minggu ini, memengaruhi rasa di kepala bagian belakang kita. Namun karena kita mesti tiba di Wanasalam pada malam itu, […]
Puisi: Pencatat Akte Kelahiran – Jimmy Maruli Alfian
Jimmy Maruli Alfian Bahkan setelah kau datang berbarengan komet pukul delapan tadi ia terus mengingatkan bahwa jari-jari panjangmu harus dicap tinta biru: Pelancong telah tiba dengan batas negara yang agak […]
Puisi: Sihir Sunyi – Fina Sato
Fina Sato sihir senja mengusap sunyi bubun ingatanku saat kelabu adakah kenangan meninggalkan rinduku di ujungujung jalanmu? rindu membadai dalam jisimku yang ringkuh sepiku sesak dengan sajaksajak perjalanan tak usai […]
Puisi: Gunduk – Iswadi Pratama (l. 1971)
Iswadi Pratama Gunduk aku pati pohon jati yang padu tak lunak namun belum batu coklat yang hampir gelap terkunci di kebun ini aku hampir dihapus humus lalu dikemas para rangas […]
