Erich Langobelen (l. 1994) Apostolos : untuk Subagio Seharusnya dalam berlayar Tak perlu mereka memiuhkan ketakutan Pada lerai angin ataupun musim Dan mendaraskan Pater Noster atau Mea CulpaDengan […]
Puisi: f/1.8 – Arif Rizki
Arif Rizki Aku tangkap kau dengan mata terbuka! Di hadapanmu, pupilku sempit dan lebar seketika. Sebagai sebuah kenangan, kau akan menjelma. Menetaplah pada ingatanku, bukan sepintas saja. Di sana, segala […]
Puisi: Pantai Pelabuhan Tua Ampenan – Sindu Putra
Sindu Putra tiada puisi, di tengah sajakku kata-kata basah kuyup, kehilangan raut di Ampenan memasuki bagian malam yang paling gelap penyair bisu itu menuliskan syair pada basah pasir; laut beku, […]
Puisi: Kukirimkan Engkau ke Negeri Mimpi – Syaukani al Karim
Syaukani al Karim anak-anakku: AAA, SSS, APGS, dan FAYA Kukirimkan engkau ke negeri mimpi, tanah yang disenandungkan setiap bunda, Mungkin sudah kau cecap asinnya, lewat air mata yang tumpah ke […]
Esai: Penyair Sebagai Bendahara Sabda – Dick Hartoko (1922-2001)
Dick Hartoko (1922-2001) KEPADA penyairlah sabda itu diserahkan untuk dipelihara. Sabda itu lebih padat daripada gagasan saja: sabda adalah gagasan yang telah mendarah dan mendaging. Karena jiwa dan badan itu […]
Puisi: Ada Jarak – Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001)
Piek Ardijanto Soeprijadi berdiri di pinggang bukit meniti garis alit pertemuan bumi dengan langit sadar ada jarak antara sini dengan sana tapi entah berapa jauhnya mungkinkah kita meraih satu titik […]
Puisi: Belajar Menghitung Hari – Muhammad Daffa
Muhammad Daffa 1 Berapa usia larut dalam kabut Menggembala di padang kesesatan Berjalan mengoyak sepi Kerap abai kepadanya 2 Jalan terpanjang sudah terpampang. Cahaya menebas ruang Bayang-bayang meninggalkan ruang Bayang-bayang […]
Puisi: Beberapa Kata Tentang Cinta – Muhammad Daffa
Muhammad Daffa (1) Cinta adalah denyut tak teraba, desir tanpa aba-aba. Bagiku ia adalah sebuah keniscayaan yang semestinya memang ada dalam hidup. Bukan semata semu dalam redup. Seseorang bijak pernah […]
Puisi: Jalan Tuntang – Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001)
Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001) mendung tebal menjemputku mengucapkan selamat datang ketika aku sampai ke jalan tuntang yang masih seperti dulu juga lengang menjelang senja kuperlambat langkahku menatapi pepohonan tepi jalan […]
