Ratna Ayu Budhiarti Raungan sirine di kejauhan dan monas di arah mata angin yang entah Barat atau Timur dari tempatku berdiri. Sebuah televisi di atas kepala menjajakan tawaria selebriti tertangkap […]
Puisi: Di Stasiun Jatinegara – Ratna Ayu Budhiarti
Ratna Ayu Budhiarti Orang-orang memakan masa depan Dari semangkuk nasi siap saji, bubur dan mie instan Sambil mengunyah pertarungan mereka sendiri dengan lahap, Matanya tak berhenti memutar Mencari-cari alamat Di […]
Puisi: Kemudian Senyap, Kemudian Gelap – Linus Suryadi AG (1951-1999)
Linus Suryadi AG (1951-1999) Kemudian senyap, kemudian gelap engkau berjalan demikian tegap Jika hari, engkau tahu, berayun dalam lena kabut-kabut terbantun Jatuh di tanah-tanah yang anggun jatuh kita yang sangsi: […]
Esai: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan – Sofyan RH. Zaid
Oleh Sofyan RH. Zaid* “Puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahaan hati.” – Goenawan Mohamad Gairah Kepenyairan Seperti yang diucapkan Borges, yang paling pahit dari kepenyairan adalah ketika […]
Puisi: Bukit Turi – A. Warits Rovi
A. Warits Rovi di pelataran bukit ini kenangan lelap dan bangkit kembali menjadi hijau daun-daun turi rupanya musim-musim juga ada di matamu menyimpan rahasia biografi sungai yang pernah menghanyutkan kenangan […]
Puisi: Menulis Engkau – Nermi Silaban
Nermi Silaban di kertas yang kutulis menyerupai api, kemenyan, dan tarian bahkan tempatku datang dan pulang berbenah dalam dadamu kau begitu terampil membuatku sibuk membajui namamu dengan kata-kata jatuh pada […]
Puisi: Variasi Rumah – Marsten L. Tarigan
Marsten L. Tarigan Aku adalah penghuni baru di kota yang buta ini. Kuangkut kata-kata, kumuat mimpi-mimpi dalam kereta kencana: kau yang kulupa bersama rumah lama yang kian menjarak. Kau juga […]
Esai: Tentang Kritikus dan Kritik Sastra
Oleh Maman S Mahayana PRAKTIK kritik sastra pada hakikatnya merupakan tindak menilai (evaluation). Ia memulai dan mengakhiri kegiatannya dengan memberi penilaian. Ketika seseorang hendak menulis kritik sastra, misalnya, ia mengawalinya […]
Puisi: Pantun Kampung Cina Terbakar – Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau (akhir abad ke-19)
Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau (akhir abad ke-19) Kampung Cina dimakan api Terangnya sampai ke Tanjungpinang Cinta merana di dalam hati Kepada tuan juga terkenang. Terangnya sampai ke Tanjungpinang […]
