Frans Nadjira (l. 1942) Sajak Bonsai Memandang Pagi Jadi apa makna bercak darah? Tirai tembus pandang bergetar dalam cahaya ketika dingin menyentuh kemilau embun. Ia ingat jejak melati dan semua […]
Author: Editor
Puisi: Aku Tak Bisa Lagi Bernyanyi – A. Mustofa Bisri (l. 1944)
A. Mustofa Bisri (l. 1944) Aku Tak Bisa Lagi Bernyanyi bagiku tak ada lagi lirik dan musik yang menarik untuk kunyanyikan bersamamu atau sendiri burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja […]
Puisi: Abu Mayat John Lennon – Binhad Nurrohmat (l. 1976)
Binhad Nurrohmat (l. 1976) Abu Mayat John Lennon Tak mesti menangis saat bersedih. Tak ada yang mengaku bahagia atas kematian John di New York. Walau bukan teman sekalipun, seluruh dunia […]
Puisi: Sepasang Hikayat – Mario F Lawi (l. 1991)
Mario F Lawi (l. 1991) Sepasang Hikayat Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik […]
Puisi: Sajak Terakhir – Mario F Lawi (l. 1991)
Maro F Lawi (l. 1991) Sajak Terakhir Surga adalah gelembung sabun Yang penuh udara Karena dijejali keluh-kesah orang-orang Pasrah yang malas berusaha. Di sebuah taman, engkau pernah Mewariskan hujah yang […]
Puisi: Perjamuan – Mario F. Lawi (l. 1991)
Maro F Lawi (l. 1991) Perjamuan Sehelai kafan membungkus rotimu. Kami berlatih Menjinakkan berpasang sumpit demi mangkuk-mangkuk mi Yang pasrah di hadapan kami. Tiga botol selai berdebar Di hadapanmu. Coklat. […]
Esai: Pragmatik dan Secuil Teks di Twitter
Catatan Seorang AwamOleh Hasan Aspahani Saya ingin langsung mulai esai ini dengan kutipan: Karena bahasa selalu diungkapkan dalam konteks, ada unsur-unsur tertentu yang menyebabkan serasi tidaknya sistem bahasa di dalamnya. […]
Esai: Mencoba Memahami Apa Itu Sastra
Catatan Permenungan Seorang Awam Oleh Hasan Aspahani ISTILAH “orang awam” saya comot dari Subagio Sastrowardoyo. Ketika menjadi pembicara kunci seminar “Menjelang Teori dan Kritik Susastra Indonesia yang Relevan”, ia membentang […]
Puisi: Rumah – Bahrum Rangkuti (1919-1977)
Bahrum Rangkuti (1919-1977) Rumah Kami menghuni tiga rumah Di kota metropol di mana malaikat, jin dan setan bertarung dalam hati insan Di Ciputat dekat danau si Gintung untuk memisah waktu, […]
