Angger Jati Wijaya (1967-2013)Mangga Besar Pernah satu kaliAku susuri jalan iniMenggenapkan sunyi yang menyiksaSendiri di tengah begitu banyak manusia Melewati gang demi gang tanpa cahayaMemastikan alamat para kerabatSambil menghindar tatapan […]
Author: Editor
Puisi: Fajar pun Telah Menyingsing – Djawastin Hasugian (l. 1943)
Djawastin Hasugian (l. 1943) Fajar pun Telah Menyingsing Ciumlah bumi kekasihciumlah pantai, dengar indah syair di pasir putihnyaHiruplah udara, rasa nikmat suling angin di rumput hijaunyaIalah bumi tempat kita menggenangkan […]
Puisi: Kucing Rumah Tangga – Aksan Taqwin Embe
Aksan Taqwin Embe Kucing Rumah Tangga sebagai petandakucing-kucing rumah tanggatak berani keluar rumah. mereka bersembunyidi bawah meja. diam di kolong ranjangseperti sedang terkepung.diam dan tercenung. kucing mencuri pandangkelambu yang disingkap […]
Puisi: Tukang Gendam – Aksan Taqwin Embe
Aksan Taqwin Embe Tukang Gendam Kau sudah datanglebih awal dari suara azan. memasuki pintubelakang yang sedikit terbuka. ia tahu keinginannyasegera tiba. menunggu di depan pintu.wajahnya tampak gembira. menyeduh secangkir kopiuntukmu. […]
Puisi: Berjalan di Tepi Doa – Derry Saba
Derry SabaBerjalan di Tepi Doa kami menyusuri tepi doa,Kau ombak yang berdesir.bentang lautan adalah pertanyaanyang menyatukan kita: kami dengan misteri-Mu, dandiam-Mu dengan kegaduhan kotadi dalam kepala kami.di dasar doa, kami […]
Puisi: Tumpukan Buku Bekas – Derry Saba
Derry SabaTumpukan Buku Bekas Setelah lelah bertualang, kau pernah menyembunyikanTubuh malangmu ke dalam tumpukan buku-buku. Kau biarkanPuisi membenamkan kecemasanmu. Ke dalam larik-lariknyaYang sepi kau serahkan kegaduhan kota dan seisi dadamu.Kau […]
Puisi: Di Hadapan Kesepian – Derry Saba
Derry SabaDi Hadapan Kesepian Di tepi perapian, percakapan itu dimulaiPerempuan mengenakan lidah ular yang pernahMembelit rasa lapar liangnya. Sementara lelaki—Seperti biasa—menyembunyikan kesepian maha dinginDi balik panas api kata-kata mulutnya. “Kesepian […]
Puisi: 1984 – Edwin Anugerah Pradana
Edwin Anugerah Pradana1984 I“Mengapa kita tak jujur, Winston?”Julia seperti bertanya dari arah dipan dengan nyeri di negeri yang maklum. Mereka tata berahi, di ruangan itu. IISementara di luar, kota memasang […]
Puisi: Di Pesisir -Edwin Anugerah Pradana
Edwin Anugerah PradanaDi Pesisir “Aku tak dingin.”Ia seperti berbisik, sedikit tersenyum.Gadis itu tak bicara banyak setelah dusun kosongdan sepi seperti tiba dari zaman pertama. “Siapa yang kau kenang?”“Mungkin tak ada. […]
