Chairoemi binti M. Hoesain 1. Lamalah sudah diangan-angan, Di dalam kalbu atau timbangan, Hendak menjelma ke “Pandji” jambangan, Inilah baru ada lapangan. 2. Adapun akan kedatangan beta, Dari Tjalang suatu […]
Puisi
Puisi: Jagung Tumbuh di Hatimu – Ujianto Sadewa
Ujianto Sadewa Dengar sedepa pintu gerbong menendang-nendang kepalamu yang berlubang. Sama saja. Seperti jerit megapon yang meledak di tanganmu. Kabarnya, sebutir jagung yang kau tanam itu telah tumbuh setinggi anak […]
Puisi: Manuskrip Lelaki Penyuka Wortel – Al-Fian Dippahatang (l. 1994)
Al-Fian Dippahatang (l. 1994) Manuskrip Lelaki Penyuka Wortel Lelaki yang pernah membuatmu mabuk perasaan, kini jatuh bangun mengejarmu kembali. Lantaran engkau tak bisa mengelak, terlanjur mencintaiku yang jelas-jelas memiliki kelainan […]
Puisi: Berikhtiar Goena Kaoem – J. Mawelkere (1921)
J. Mawelkere 1. Ahwal bermula berjajak kalam Bagi pembaca kusampaikan salam Diberkati Tuhan semesta alam Ikhtiar kita boleh di kalam 2. Dalam berikhtiar selamatnya kaum Perkara sendiri harus malum Jangan […]
Puisi: Sjair Tioeng – Aboe Sjamar (1914)
Aboe Sjamar Adapun tiung sebangsa burung Di dalam sangkar ia terkurung Pandai bernyanyi sorak menggarung Bagai saudara duduk di warung Duduk di warung menghadap barang Tiap sebentar menyapa orang Memuji […]
Puisi: Pembrian Tahoe – B.K. (1910)
B.K. 1. Muhun ampun, beribu ampun, Kepada sekaliyan pembaca pantun, Pantun telaat berkunjung ke tuan Kerana ta’ saperti permulaan. 2. Mulai keluwar berhuruf Arab, Sebab perlu mencahri akrab, Tapi sekarang […]
Puisi: Sjair Radjin dan Segan – Gouw Peng Liang (1891)
Gouw Peng Liang Miliq alam di antero banuwa, Rajin terutama dari samuwa, Bagai manusiya muda dan tuwa Rajin itu-itu termanfaatlah juwa. Akan sakaliyan kita manusiya, Baik hina atau muliya, Jakakalu […]
Puisi: Sjair Tiga Kali Doewa dan Satoe – Gouw Peng Liang (1891)
Gouw Peng Liang Angkau mempunyai duwa buwah mata; Tetapi mulutmu melainkan sabuwa; Agaqnya itu diberi nyata: Lebih berdiyam dari melihat samuwa. Angkau mempunya telingan duwa, Tetapi sabuwah mulut akan bicara; […]
Puisi: Moesin Derep – Moesin Meladjo – M.J. (1873)
M.J. 1. Musin motong sudah datang, Apa kita dengar itu? Padi di sawah sudah matang, Kita orang ramai pergi di situ. 2. Pada waktu siang hari, Tranglah cahyanya matahari, Dengar […]
