Aji Ramdhan Uap yang mengepul menandakan aku telah siap melumat kaku dagingmu. Tujuanku hanya satu, membuatmu tenang dengan sedikit kejutan tak terduga. Dan keluarlah kotoran lewat pori-porimu, seperti lava dingin […]
Puisi
Puisi: Langit Tampak Mencolok – Aji Ramadhan
Aji Ramadhan Biarkan langit tampak mencolok setelah kurvanya kehabisan mekar. Dan biarkan juga langit tak lagi elok, sebab orarenya telah membayang. Tapi misalkan, langit tak menawarkan pemandangan tersebut, barangkali aku […]
Puisi: Hari Penghabisan Letnan Dan – A. Muttaqin
A. Muttaqin Di pondok pelacur itu ia isap cerutu buntu. Di pondok pelacuran itu ia sesap candu keluh. lalu bernyanyi-nyanyi ia tentang buntung kakinya tentang buntung nasibnya tentang tititnya yang […]
Puisi: Malam Jakarta – Hanna Fransisca
Hanna Fransisca Air, air, melayang terbang di bawah pohon kersen burung di ranting, basah sayapnya memandang Jakarta Jauh di langit gadis kecil mencangkung nenteng plastik, mengunyah permen, matanya bening seperti […]
Puisi: Catatan Sel 12 – Hanna Fransisca
Hanna Fransisca Sel nomor 12 mencatat nama seorang penyair perempuan yang menembak burung kenari di taman kebunnya sendiri Ia menjadi legenda bagi para pembunuh bertangan hitam yang selalu mengasah pisaunya […]
Puisi: Malam Menghunus Sepi yang Tua – Arwinto Syamsunu Ajie (1965-2019)
Arwinto Syamsunu Ajie (1965-2019) Malam Menghunus Sepi yang Tua Sandiwara mulai digulung oleh lampu dan jalan-jalan kota. Bayang-bayang pada koyak jala warna merengek pulang ke kubangan semula Gedung-gedung terkurung keletihannya […]
Puisi: Sajak-sajak Asap – Amarzan Ismail Hamid
Amarzan Ismail Hamid inilah hikayat tujuh belas tahun rindu dendam hutan mambang hutan kiambang hutan sialang hutan api tak pernah padam alang kepalang lesah tanah perawan tak kijang di mata […]
Puisi: Olok-olok Buah Utu – Nermi Silaban
Nermi Silaban Kau keturunan silang kacang nangka, dan getah cempedak dicampak jauh ke ladang jiran – ara berteh paya Di batas rimba Serawak kerabatmu tertinggal jadi pejatai lain di hutan […]
Puisi: Selepas Karam – Dadang Ari Murtono
Dadang Ari Murtono empat puluh hari kemudian, di puing kuil, ia saksikan padma itu, merekah dan merah – ia mengira itulah yang disaksikan kanjeng nabi dalam malam mi’raj, dua atau […]
