Tajuddin Noor Ganie Hari ini kita kembali mencari diri Di pelosok negeri air mata rawa-rawa Lalu kita semua entah mengapa menjelma menjadi pengembara yang membenturkan hakikat diri pada ombak-ombak duniawi […]
Puisi
Puisi: Slam Poetry – Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Yulden Erwin Di sini, seseorang telah mencipta puisi dari serbuk getah poppy. Ia mengira dirinya penyair terkutuk yang mangkir pada detik terakhir, dan terbatuk. Di sini, seseorang mengukir dingin […]
Puisi: Balada Sebuah Apel – Dian Hardiana
Dian Hardiana Dari sebuah pohon kekasihku lahir dan tumbuh wajahnya mungil dan licin merah basah-bulat dan padat di bibirmu kita berpagutan di mata mereka cemburu menyala-nyala “mengapa memagutnya di depan […]
Puisi: Upacara Darah – Mira MM Astra
Mira MM Astra Sebab hanya darah campuhan tempat aku menadah sesaji dedari dan lingkaran api lingkaran yang bergasing ketika sebuah nada tertawar sesayut segala suara nada yang mengeram seperti ikan […]
Puisi: Percakapan Angin dan Jendela – Alizar Tanjung
Alizar Tanjung angin bertemu ke jendela dengan tangan besar dan kasar, ia tampar jendela, berdentang daun jendela kayu ke kusen. berbalik jendela menampar angin, angin dan jendela berulang saling tampar. […]
Puisi: Aku di Sini Kata Muara – Tajuddin Noor Ganie
Tajuddin Noor Ganie Hati berzikir mengucap laut pasang berombak Gelap menyalin suara gemuruh daun luruh Hanya satu yang dituju hatiku: mencari muara kata berasal Muara kata di mana kau berada? […]
Puisi: Tebu – Kedung Darma Romansha
Kedung Darma Romansha hiruplah wangi tubuhku kau akan tahu ke mana dialamatkan darahku: kota-kota yang dikristalkan di buku-buku yang berdebu. hiruplah bau tubuhku dari tulang-tulang besi berkarat ketel yang terbatuk-batuk […]
Puisi: Lewong – Dody Kristianto
Dody Kristianto Yang kau tunggu menubuh dan bersarang di halaman belakang. Jangan kau bersiap dengan ancangan tendang. Tak harus kau kelar mendaras isi kamus beragam kamus. Yang kau perlu hanya […]
Puisi: Amarah – Dody Kristianto
Dody Kristianto Bahasamu menakik kiri kanan, bahasaku mengendap menyelinap. Perihal berkendara kuda hijau, inilah aku yang patut kau ujar mahacergas. Kesiurku gejolak singkat yang menekuk. Lembar pengetahuanku sebenarnya kalibut sesat […]
