Ardy Kresna Crenata tangan kita terlalu dekat ke meja ini. aku berusaha menumpahkan hujan yang beberapa malam kita simpan. engkau tak lelah juga menorehkan igauan menjadi garis-garis serupa tangis yang […]
Puisi
Puisi: Aku Kirim Juga Akhirnya Puisi Ini – Zelfeni Wimra
Zelfeni Wimra aku kirim puisi ini kepada debu yang berhamburan di sela jemari pengasah batu akik sebagian terbang ke ketiadaan sebagian menyuruk ke ruang paling rentan dan orang-orang yang gemar […]
Puisi: Di Gua Karang – Dea Anugrah
Dea Anugrah Lelaki renta dalam jubah mori itu belum ingin percaya pada penglihatannya. “Sesam, sesam,” ia bergumam dengan bibir kering, dalam nada jeri, entah untuk kali yang keberapa. Mata itu […]
Puisi: Epitaf Kamar Mandi – Sartika Sari
Sartika Sari kami suka menuang sampah di kerongkongan atau memandikanmu dengan kebencian. Tapi kau tenang saja, memandang kami penuh cinta. betapa setia, ketika jam-jam tengah malam, bahkan kami sendirian tanpa […]
Puisi: Kampung Kolam – Sartika Sari
Sartika Sari pagi buta, kakek berjalan memikul cangkul, racun tikus dan beberapa karung goni di selipan ketiak kanan. angin menegurnya berulang-ulang, menepuk pipi dan kantung matanya, tapi kakek tak bersuara. […]
Puisi: Empat Perkabungan Bersinggungan – Bresman Marpaung
Bresman Marpaung 1 apa yang kau dengar bila serigala dan luwak berbisik di punggung bulan selain berbincang jubah paling cemar memintal dari mangsanya samar memerangkap mangsa lain pernahkah mereka terdengar […]
Puisi: Anak Kecil di Tengah Lautan – Dodong Djiwapradja (1928-2009)
Dodong Djiwapradja (1928-2009) Kita tidak pernah belajar bagaimana para nelayan berlayar. Ketika ombak datang didorongnya ke muka perahu kecil yang terbuka. Kitapun tak berani mengeringkan tubuh di tengah lautan: menantang […]
Puisi: Terlalu Banyak Kehilangan – Dodong Djiwapradja (1928-2009)
Dodong Djiwapradja (1928-2009) Inilah sebagian dari mimpi yang mestinya terjadi dulu waktu sekolah, ketika seorang dari kita membiarkan rambutnya terurai membaringkan tubuh di atas pasir, atau berenang ke tengah tatkala […]
Puisi: Kabar Cuaca dalam Seloka – Galeh Pramudianto
Galeh Pramudianto 1. senin, pagi ini cuaca berawan langit-langit lagi sandaran kau sedang benci kelaparan yang puasa saja telah kekenyangan 2. jangan lahir hari ini! pawukon santai menari watak buruk […]
